|
|
 |
 |
|
Thursday, June 05, 2008
Calling for Environment Day
Selamatkan Gajah Sumatera:
Klik Video 'BENGKULU ELEPHANT-UNDER SIEGE' dan Berikan Perhatian Anda untuk penyelamatan Gajah Sumatera. Mungkin
tidak semua orang yang tahu kalau tanggal 5 Juni selalu diperingati
sebagai Hari Lingkungan Hidup Sedunia atau World Environment Day (WED)
yang setiap tahunnya selalu mengangkat tema-tema yang berbeda. Di
Indonesia tema Hari Lingkungan Hidup Sedunia untuk tahun ini adalah "Ubah Prilaku dan Cegah Pencemaran Lingkungan" sementara untuk dunia "Kick the Habit!: Toward A Low Carbon Economy" (KOMPAS/05/06/08)
Bogor,
5 Juni 2008. Dalam memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia kami
mencoba mengajak anda untuk melihat apa yang sedang terjadi terhadap
salah satu habitat mamalia terbesar yang ada di Pulau Sumatera.
Meningkatnya populasi penduduk tentunya akan diikuti oleh tingginya
pemanfaatan kawasan hutan dan disekitarnya. Pemanfaatan hutan untuk
area pemukiman, perladangan dan perkebunan skala besar telah
menyebabkan berkurangnya kawasan hutan yang ada dan menjadi ancaman
terhadap satwa dan flora yang ada didalamnya.
Populasi gajah sumatera ( Elephas maximus sumatranus)
saat ini diperkirakan hanya tinggal 2800 ekor. Di Provinsi Bengkulu
populasinya diperkirakan hanya tinggal 120-140 ekor. Ancaman terhadap
habitat gajah di Bengkulu akibat dari maraknya aktivitas manusia juga
terjadi di habitat gajah lainnya di Pulau Sumatera. Saksikan 'BENGKULU ELEPHANT-UNDER SIEGE' di www.gekkovoices.com yang kami dedikasikan untuk upaya penyelamatan Gajah Sumatera.
Diproduksi oleh Gekko Studio, bekerjasama dengan Rufford Fondation ( www.ruford.org).
Kami membawakan 'BENGKULU ELEPHANT-UNDER SIEGE' untuk mendapat
perhatian anda. Jika anda telah selesai menyaksikan video ini dan anda
memiliki mimpi yang sama dengan kami, bagikanlah kepada teman-teman
anda sekalian. Bersama kita dapat menyelamatkan salah satu mamalia
terbesar dan dilindungi yang ada di Indonesia.
SELAMATKAN GAJAH SUMATERA DAN TEMPAT HIDUPNYA. Hanya ada sedikit waktu
yang tersisa sejak hari ini. Sekarang atau terlambat sama sekali.
Salam, Een Irawan Putra
Posted at Thursday, June 05, 2008 by berang
Permalink
Friday, May 09, 2008
Karena masih belum ada perjalanan dalam bulan ini, aku posting aja
tentang perkebunan sawit. Kebetulan Kompas hari ini melanjutkan
tulisannya mengenai dilema kelapa sawit. Semoga rakyat indonesia ini,
terutama petani-petaninya pikir-pikir kembali sebelum menggantikan
tanaman-tanaman yang ada dan juga areal persawahan mereka ketanaman
sawit.
Selamat membaca dan semoga yang baca juga bisa share kepada petani kita mengenai dilema tanaman sawit ini. ----------------------------------------------------------------------------------------------------------
Musim Semi Usaha Sawit (1)
Jumat, 9 Mei 2008 | 01:59 WIB
Oleh Ahmad Arif
Musim semi pengusaha sawit telah tiba, seiring terus naiknya
harga komoditas ini. Namun, lonjakan harga sawit tak mengubah hidup
jutaan buruh kebun yang dililit kemiskinan. Ekspansi sawit juga
menyisakan banyak masalah lingkungan dan konflik berkepanjangan dengan
masyarakat lokal. Lantas, siapa yang benar-benar diuntungkan terkait
kenaikan harga sawit ini?
Rizal (52) benar-benar bisa tersenyum lega. Petani plasma dari Dusun
Teluk Kijing III, Desa Teluk Kijing, Kecamatan Lais, Kabupaten Musi
Banyuasin, Sumatera Selatan, ini merasakan lonjakan penghasilan dari
lahan kelapa sawitnya seluas 8 hektar.
"Harga sawit di sini Rp 1.723 per kilogram. Ini harga tertinggi sejak 21 tahun menanam sawit," kata dia.
Dengan penghasilan bersih rata-rata Rp 1 juta per hektar (ha),
setelah dipotong biaya pupuk dan tenaga kerja, Rizal bisa memperoleh
pendapatan Rp 8 juta per bulan. Saat panen puncak, pendapatan Rizal
bisa dua kali lipat.
Dusun Teluk Kijing III memang bergairah. Rumah-rumah tembok baru
bermunculan, menggantikan rumah kayu jatah dari PT Perkebunan Nusantara
(PN) VII yang dibagikan awal 1980-an. " Hampir tak ada lagi rumah kayu
di sini. Setiap petani sawit juga punya sepeda motor, bahkan sebagian
punya mobil," tambah Rizal.
Namun, bagi Makmur Maryanto (40), Ketua Koperasi Plasma Desa Sule,
Kecamatan Gunung Megang, Kabupaten Muara Enim, keuntungan yang
dinikmati petani sawit plasma belum seberapa. "Harga memang naik, tapi
seharusnya bisa lebih tinggi lagi. Selama ini penentuan harga sawit
masih didikte pengusaha CPO dan pemerintah," kata dia.
Apalagi, tambahnya, petani kecil menghadapi banyak masalah.
Misalnya, kesulitan pupuk dan kurangnya pabrik pengolahan kelapa sawit
(PPKS), sehingga petani sering kesulitan menjual hasil panen saat panen
puncak.
Petani harus pasrah menunggu hingga tiga hari sebelum kelapa sawit
mereka bisa masuk ke PPKS. Akibatnya, hasil panen menyusut hingga 2
kuintal per 6 ton. "Perusahaan lebih mengutamakan sawit tanaman mereka
sendiri. Pernah panen kami membusuk sebelum masuk PPKS sehingga
akhirnya tak bisa dijual," Novianto (36), Ketua Kelompok Tani UPT II
Desa Sule.
Ekspansi sawit
Bagaimanapun, lonjakan harga sawit saat ini memang
menggiurkan, terutama bagi pemodal besar yang mampu membangun sendiri
PPKS. Tak heran, pemodal besar baik perorangan maupun perusahaan
berlomba membeli lahan dan menanam sawit dengan skala ratusan hektar
hingga ratusan ribu hektar.
Sawit Watch menyebutkan, Indonesia telah membuka areal sekitar 18
juta hektar untuk perkebunan sawit dan baru 6 juta hektar lahan yang
telah ditanami. Kini, rencana pembangunan perkebunan kelapa sawit
terbesar di dunia seluas 1,8 juta hektar tengah digagas di jantung
Kalimantan.
Atas nama pembukaan perkebunan sawit, pemodal besar mencaplok lahan
masyarakat adat dan masyarakat lokal. Deretan panjang konflik antara
pengusaha sawit dan masyarakat adat mengemuka. Belum lagi kerusakan
lingkungan yang terjadi karena karena sebagian lahan sawit dikonversi
dari hutan alam.
"Lahan
keluarga kami seluas 15 hektar dirampas untuk dijadikan kebun sawit
pada tahun 1980-an lalu. Tak ada ganti rugi, kami tak berani melawan
karena perusahaan menggunakan tentara," tutur Kailani (68), warga Dusun
Teluk Kijing III, Kecamatan Lais, Musi Banyuasin.
Tak dinikmati buruh
Di sisi lain, lonjakan harga sawit ternyata tidak diikuti
peningkatan kesejahteraan hidup para buruh. Yan (45) dan Amigos (29),
dua buruh pemetik sawit asal Flores yang bekerja di perusahaan sawit
swasta di Desa Ujan Mas, Kecamatan Gunung Megang, Muara Enim, hidup
dalam kemiskinan.
Menurut Amigos, buruh di perkebunan kelapa sawit dijerat aturan kerja
yang kelewat berat. Seorang buruh petik sawit tidak akan mendapat upah
harian jika melakukan kesalahan. Jenis kesalahan itu, misalnya, buah
sawit di pohon tidak dipetik secara tuntas, menjatuhkan remah-remah
sawit di tanah sekitar pohon, dan lupa membersihkan daun pohon sawit
yang sudah layu.
Yan menuturkan pengalaman pahitnya saat terjadi panen raya, April lalu.
Waktu itu, dia berhasil memanen 20 anca buah sawit selama sehari. Anca
adalah satuan dan indikator jumlah kelapa sawit yang dipetik. Dengan
hasil itu, seharusnya dia bisa mendapatkan upah Rp 300.000. "Tapi,
hanya karena kesalahan kecil, yakni menyisakan satu buah sawit di
pohon, upah saya hari itu hangus semuanya," keluh Yan.
Sebagian besar buruh tinggal di rumah panggung dan gubuk di sekitar
perkebunan sawit. Mereka harus hidup tanpa memiliki fasilitas listrik,
jauh dari pelayanan kesehatan, maupun pendidikan untuk anak-anak.
Lokasi tempat tinggal mereka jauh di tengah hutan. Sedikitnya butuh
waktu tiga jam atau menempuh jarak lebih dari 30 kilometer untuk bisa
sampai ke permukiman terdekat. Keterasingan ini diperparah oleh kondisi
jalan tanah yang tak bisa dilalui saat musim hujan.
Bicara buruh kebun, berarti bicara soal kemelaratan yang terus
dipelihara di tengah "keuntungan besar" para pengusaha perkebunan,
bahkan sejak perkebunan di Sumatera Timur-sekarang Sumatera Utara-di
buka tahun 1860. Ann Laura Stoler dalam buku Kapitalisme dan
Konfrontasi di Sabuk Perkebunan Sumatera 1870-1979 menyebutkan, para
pengusaha mencari buruh mereka ke desa-desa miskin di Jawa pada awal
abad ke-19 untuk dijadikan kuli. Para kuli harus bekerja tidak dibayar
dalam waktu tertentu, biasanya tiga tahun. Tidak bekerja adalah
pelanggaran kontrak, maka buruh dikenai sanksi pidana (poenale sanctie).
Buruh tinggal di pondok-pondok di tengah kebun dan sulit keluar.
Perputaran uang hanya ada di dalam kebun. Judi dan hiburan dalam kebun
menjadi hal biasa untuk menyedot dana pekerja agar tidak bisa keluar
dari kebun. Ichwan Azhari, sejarawan dari Universitas Negeri Medan,
mengatakan bahwa pengelola kebun mencetak uangnya sendiri. Uang baru
bisa ditukar jika buruh hendak keluar kebun. "Seperti negara dalam
negara," katanya.
Setelah 63 tahun Indonesia merdeka, situasinya ternyata belum juga
banyak berubah. "Beginilah keadaan kami, perumahan yang kami tempati
bocor semua. Kalau hujan, kami sibuk nadahi (menampung) air," tutur
Wasimin (47), kerani penerima buah PTPN II di Afdeling II Kebon Melati,
Kecamatan Pegajahan, Serdang Bedagai.
Setelah menjadi kerani, ia mendapat gaji Rp 805.000 per bulan
ditambah beras 30 kilogram. Ia juga mendapat rumah pondokan beratap
seng lantai plester dengan dua kamar.
Kenaikan harga komoditas perkebunan, terutama crude palm oil (CPO),
belum pernah ia nikmati. "Saya dengar harga sawit sekarang Rp 1.600 per
kilogram. Kalau harga naik, semestinya kesejahteraan kami juga naik.
Kondisi saat ini benar-benar sulit," kata bapak tiga anak itu.
Gajinya hanya cukup untuk makan dan terseok-seok untuk untuk
pendidikan dasar dan menengah anak-anaknya. "Apalagi untuk memperbaiki
rumah," tutur Wasimi, yang bertanggung jawab atas 75 hektar lahan
panenan tiap hari atau 500 hektar per minggu itu.
Wasimin adalah salah satu potret hidup buruh perkebunan yang
kondisinya hingga kini masih saja kembang kempis. Ia mendedikasikan
hidupnya untuk kebun, namun kebun tidak cukup menghidupinya.
(ONI/WSI/KEN) ---------------------------------------------------------------------------------------------------------
Hikayat Kuli Kontrak (2)
Jumat, 9 Mei 2008 | 01:58 WIB
Kisah kuli kontrak perkebunan sawit dan karet adalah kisah lama tentang
eksploitasi tenaga kerja oleh pengusaha. Jika dulu yang mengeksploitasi
pihak kolonial Belanda, kini peran itu banyak dilakukan perusahaan
negara ataupun swasta (baik dari dalam maupun luar negeri).
Beberapa buku menulis soal kisah sedih puluhan ribu buruh perkebunan
Sumatera Timur (kini Sumatera Utara), seperti De Millionen uit Deli
(Jutaan dari Deli) oleh Van de Brand dan Uit Onze Kolonien (Dari Koloni
Kita) oleh Van Kol pada tahun 1903. Ada pula cerita Hikayat Kuli
Kontrak karya M Zaid dan Berjuta-Juta dari Deli karya Emil Aulia.
Kisah sedih itu belum juga berubah hingga kini. Saat Kompas datang ke
rumah seorang pekerja perkebunan swasta nasional di kawasan Perbaungan,
Serdang Bedagai, si pekerja tidak mau bicara. Wajahnya tegang saat tahu
yang datang wartawan. Ia
baru mau bicara setelah keluar dari kampungnya. "Di sini sulit, mau
bicara terus terang banyak orang mendengar. Ada tamu pakai mobil saja
sudah menjadi pembicaraan tetangga, lalu dilaporkan ke mandor," utur
karyawan di PTPN II itu. Demi alasan "keamanan" ia keberatan dibuka
identitasnya. Setelah sampai di luar kompleks ia baru berani
bercerita bahwa gajinya sekarang sekitar Rp 850.000 per bulan, sudah
dipotong iuran Jamsostek. "Gaji naik mengikuti upah minimum provinsi,"
kata dia. Ia bisa mendapatkan premi tambahan dari hasil kerjanya
di bagian pengangkutan hasil kebun sekitar Rp 200.000 per bulan. Bonus
tahunan yang didapat karyawan sebanyak satu setengah gaji pokok, yang
di antaranya dibagikan menjelang Lebaran. Ia juga mendapat rumah pondok
yang berjarak sekitar 1,5 kilometer dari jalan raya.
Namun, rumah itu lebih mirip gubuk reyot. Langit-langit rumah
berdinding papan itu sudah jebol. "Saya memang tidak mau minta
perbaikan rumah ke mandor. Harus ada uang rokok dulu," tuturnya. Daniel
Sibarani dari Divisi Pengorganisasian dan Riset Kelompok Pelita
Sejahtera (KPS), lembaga swadaya masyarakat yang mendampingi buruh
kebun di Sumatera Utara, mengatakan bahwa kondisi buruh yang tidak
berani bicara itu terjadi karena langgengnya sistem feodalisme dalam
perkebunan. Dan ini terjadi di hampir setiap kebun.
Kondisi di perusahaan swasta asing juga tak jauh beda. Maria, istri
Herman-seorang pegawai perusahaan perkebunan swasta asing di Matapao,
Serdang Bedagai-mengatakan, suaminya yang bekerja sebagai pemanen
setiap bulan menerima gaji Rp 870.000. Angka itu sudah naik dari angka
tahun lalu Rp 764.000. Tiap bulan gaji diterimakan dua kali, tanggal 19
dan tanggal 5. "Kalau orang pabrik pengolahan, biasanya ada uang lembur
Kalau orang kebun, ada premi," tutur Maria. Ibu
dua anak usia TK dan SMP itu mengaku tak bisa banyak bergerak dengan
gaji suami yang pas-pasan. "Ya, dicukup-cukupkan. Kalau di kebun, orang
biasa gali lubang tutup lubang," ujar Maria. KPS memperkirakan
ada sekitar 1,6 juta buruh di perkebunan di Sumatera Utara (belum
termasuk buruh pabrik). Sekitar 800.000 di antaranya adalah buruh
harian lepas. Sahat Lumbanraja dari Divisi Pengorganisasian dan Riset
KPS mengatakan, sebenarnya kondisi buruh sejak tahun 1950 lebih
terlindungi dengan adanya UU Tenaga Kerja Nomor 23 Tahun 1948. Selain
mendapat upah, waktu itu buruh kebun mendapat bantuan hidup 11
kebutuhan pokok yang disebut catu 11. Barang itu berupa beras, minyak
goreng, minyak tanah, ikan asin, kain, susu, sabun cuci, kacang hijau,
gula, garam, dan teh. Jika dikonversi dalam mata uang saat ini, upah
dan catu 11 bernilai Rp 4,5 juta-Rp 5 juta. Namun, kemudian catu
berubah menjadi sembilan dan kini tinggal beras saja. Ketimpangan
masih terjadi, menurut Sahat, selain upah yang minim, kebebasan
berserikat buruh pun tidak ada. "Buruh yang ketahuan mengikuti
pendidikan perburuhan oleh NGO akan dipecat. Banyak pengusaha
berlindung di balik undang-undang yang juga bermasalah," tutur Sahat.
(WSI)
Posted at Friday, May 09, 2008 by berang
Permalink
Friday, May 02, 2008
Terimakasih atas Dukungan Anda dan 12.000 orang lainnya di 53 Negara untuk kampanye Gekko Studio pada Hari Bumi 2008
Bogor,
2 Mei 2008. Terimakasih atas seluruh
dukungan dan partisipasi anda yang telah merespon ajakan kami untuk
mengkampanyekan anti kerusakan hutan Indonesia yang
dipresentasikan melalui Film Hutanku Meratap (The Forest Lament) pada peringatan
Hari Bumi 22 April 2008.
Sejak tanggal 22 April 2008, kami telah mendapat kunjungan lebih
dari 12.000 (duabelas ribu
orang) di 53 negara yang telah mengakses
web Gekko di www.gekkovoices.com dan
sister webnya di www.dailymotion.com/gekkostudio. Film
Hutanku Meratap ('Forest Lament') pun telah menjadi video resmi dan
favorit untuk Peringatan Hari Bumi di Amerika Serikat yang disajikan oleh Daily
Motion.
Terimakasih
untuk seluruh rekan-rekan di berbagai belahan dunia yang telah berkunjung baik
dari Afrika, Australia-Oceania, Amerika Utara, Amerika Latin, Eropa Barat, Rusia
dan Eropa Timur, Timur Tengah, India, Asia Timur dan Asia Tenggara serta
tentunya di Indonesia sendiri yang telah menyempatkan waktunya memenuhi ajakan
kami.
Kami
berharap ini merupakan langkah yang tidak pernah berkesudahan untuk terus
mengingatkan warga dunia untuk tetap menaruh perhatian kepada pelestarian
hutan-hutan terakhir yang masih tersisa beserta keragaman hayati dan manusia
yang tinggal di dalamnya.
Semoga
film yang kami dedikasikan ini dapat tetap menjadi tonggak dan api inspirasi
yang kekal agar kita tetap teringat bahwa kita hidup dalam Bumi yang Satu. Kami
bergembira, karena kami telah membuktikan bahwa masih banyak orang
yang peduli akan kelestarian Bumi kita, dan secara khusus Hutan-Hutan
Tropis Indonesia yang masih tersisa.
Salam,
Een Irawan Putra
Gekko Studio
Jl Palem Putri III no
1
Taman Yasmin Sektor
V
Bogor 16112
Indonesia
www.gekkovoices.com
www.dailymotion.com/gekkostudio
Posted at Friday, May 02, 2008 by berang
Permalink
5.871 Hektar Sawah Jadi Kebun Sawit
Membaca Koran Kompas hari ini dikolom pertanian dengan judul "5.871 Hektar Sawah Jadi Kebun Sawit" membuat hatiku meringis. Apalagi yang daerah yang disebut diharian kompas ini adalah Bengkulu, daerah dimana tempatku lahir dan dibesarkan oleh orang tuaku.
Saya tidak tahu bagaimana depan cara pandang petani-petani di Bengkulu khususnya dan di Indonesia umumnya. Sampai tega lahan persawahan mereka diganti dengan tanaman kelapa sawit. Siapakah yang salah? Petani, Pemerintah kita, para ivestor atau kita yang hanya penikmat hasil panen padi mereka??
Diluar negeri sekarang pada pusing dan ribut membahas naiknya harga beras dunia. Thailand, Vietnam, India dan negara pengekspor beras lainnya membatasi ekspor beras mereka (1). Eropa dan negara-negara besar yang tidak bisa menanam padi, dimana mereka hanya bisa mengimpor beras pada pusing mereka mau beli beras kemana lagi karena banyak negara pengekspor beras memberhentikan ekspor berasnya. Tapi yang terjadi di Indonesia justru lebih ekstrim lagi, lahan-lahan dan areal persawahan yang produktif untuk tanaman padi diganti oleh tanaman kelapa sawit. Benar-benar edan dan ngga kebayang apa yang terjadi beberapa tahun kedepan. Indonesia tidak bisa lagi menikmati beras dalam negeri dan mungkin makanan pokoknya diganti oleh buah-buah segar kelapa sawit kali ya....
Saya bingung kok bisa-bisanya petani kita ini melakukan ini. Apa alasan mereka, apa karena harga pupuk yang mahal dan susah didapat karena permainan para tengkulak dan distributor pupuk yang main mata. Tapi bukannya menenam kelapa sawit dan merawat sawit itu lebih banyak lagi kebutuhan pupuknya?. Belum lagi tanaman kelapa sawit itu boros akan akan air dan merusak struktur tanah sehingga disekitarnya tidak bisa ditanam tanaman lainnya.
Atau memang harus diakui betapa hebat dan dasyatnya pengaruh para pemain-pemain kelapa sawit ini sampai bisa mencuci otak para petani di Indonesia ini untuk mengganti seluruh tanaman mereka menjadi tanaman kelapa sawit. Saya tidak yakin klo petani kecil dan dengan modal yang terbatas akan bisa menikamati indahnya menanam sawit. Seperti petani sawit yang pernah saya temui di Bengkulu, mereka bercerita bahwa merawat sawit tidak gampang jika ingin hasil buahnya baik dan bagus. Butuh pupuk yang banyak dan rutin serta buath perhatian khusus sampai bisa berbuah pasir. Tapi kok iso yo, masih tetep kekeuh pengen nanem sawit?? Ada yang bisa jelasin??
Berikut Berita dari Kompas Pertanian 5.871 Hektar Sawah Jadi Kebun Sawit (2)
Jumat, 2 Mei 2008 | 01:07 WIB
Bengkulu, Kompas - Sedikitnya 5.871 hektar areal sawah di Provinsi Bengkulu ternyata sudah beralih fungsi menjadi lahan perkebunan. Jika laju alih fungsi lahan itu tidak bisa dihentikan dalam beberapa tahun ke depan, kondisi ini akan mengancam luas sawah produktif karena sebagian besar alih fungsi lahan di Bengkulu ini justru terjadi pada areal persawahan yang potensial beririgasi teknis.
"Dibanding di Pulau Jawa, persentase alih fungsi lahan sawah di Bengkulu memang kecil. Namun, perubahan fungsi lahan sawah yang tiap tahun terus bertambah luas sudah pasti mengancam produksi gabah karena sebagian besar lahan persawahan ini sangat produktif dan potensial diairi irigasi teknis," ungkap Wakil Kepala Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Bengkulu Ali Berti ketika ditemui di Bengkulu, Senin (28/4). Ari Berti menjelaskan, alih fungsi lahan persawahan di Bengkulu ini makin gencar sejak setahun belakangan. Ribuan sawah produktif tersebut sebagian besar beralih fungsi menjadi areal perkebunan kelapa sawit. Membaiknya harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Bengkulu, setahun belakangan, ternyata menggiurkan para petani sawah.
"Jika pada awalnya harga TBS sawit rakyat di daerah hanya sekitar Rp 200 per kg, sejak satu tahun terakhir malah naik menjadi rata-rata sekitar Rp 1.100-Rp 1.300 per kg. Inilah yang memicu para petani sawah berlomba-lomba mengubah areal persawahan mereka menjadi kebun sawit akhir-akhir ini,"ujar Ali Berti. Selain tergiur harga TBS kelapa sawit yang terus membaik, alih fungsi lahan di Bengkulu, diakuinya, juga dipicu akibat sebagian besar lahan persawahan belum optimal diairi irigasi. Areal persawahan ini berada di bagian hilir saluran tersier karena debit air irigasi menyusut menyebabkan air tidak mengalir ke lahan paling ujung. Dia mengakui, areal persawahan yang banyak beralih fungsi menjadi perkebunan di antaranya berada di Kabupaten Seluma, Bengkulu Utara, dan Mukomuko. Sebagian besar tanaman kelapa sawit rakyat ini berumur lebih dari setahun dan jika yang ditanam warga berasal dari bibit sawit unggul diperkirakan dalam dua tahun tanaman sawit di areal persawahan ini akan mulai berbuah pasir. Menurut Ali Berti, meski laju alih fungsi lahan lahan sawah menjadi areal perkebunan di Bengkulu masih dalam skala kecil, hal itu dikhawatirkan akan berdampak serius terhadap produktivitas gabah di daerah ini. (zul)
Posted at Friday, May 02, 2008 by berang
Permalink
Tuesday, April 22, 2008
Voice from the Mother Earth: Click 'The Forest Lament' and put your Attention on Indonesia's Forest Condition Bogor, April 22, 2008.
As the lungs of the world, the Indonesia tropical forests are being
lost at an alarming rate, largely due to land convertion, illegal
logging and massive exploitation. The Indigenous people have no place
to go when they find their forest changing into mining, thousands of
people plight when their houses are lost by the flood, and forest are
becoming silent because no more bird are singing and no more orangutan
jumping from the big tree to another tree.
Before it is totally gone, and will be only the story for our next
generation, just spend your 7.36 minutes during the Earth Day and you
will be the eyewitness of IndonesiaForest Destruction. Watch 'THE FOREST LAMENT' at www.gekkovoices.com which we dedicated to bring the voices of Mother Earth.
Produced by Gekko Studio, collaborating with Rizaldi Siagian and Slamet
Widodo, ---both of them are Indonesian artists who have dedicated their
talent for writing this poetry and wrapping it into dayak 'THE FOREST LAMENT' to
get your attention. If you already watched this video, and you are the
same dream with us, just share it to your friends. Together we can
save one of the last tropical forest in the world.
The planet future is on your hand.
With regard,
Gekko Studio
Suara dari Ibu Bumi:
Klik Video 'Hutanku Meratap' dan Berikan Perhatian Anda kepada Kondisi Hutan Indonesia
Bogor, 22 April 2008.
Sebagai paru-paru dunia, hutan tropika Indonesia telah berkurang dalam
laju yang mencemaskan, disebabkan oleh konversi, penebangan liar dan
eksploitasi yang berlebihan. Tidak ada lagi tempat bagi masyarakat
hutan untuk tinggal ketika hutan mereka berubah menjadi tambang, ribuan
orang meratap ketika rumah mereka hanyut oleh banjir, dan hutan menjadi
sepi ketika tidak lagi suara burung yang bernyanyi dan tiada lagi orang
utan meloncat dari satu pohon ke pohon lain.
Sebelum semuanya benar-benar musnah, dan hanya menjadi cerita bagi
generasi berikut, luangkan waktu anda 7.36 menit pada hari bumi dan
anda akan menjadi seorang saksimata kehancuran hutan Indonesia.
Saksikan 'HUTANKU MERATAP' di www.gekkovoices.com yang kami dedikasikan untuk membawakan suara dari Ibu Bumi.
Diproduksi oleh Gekko Studio, bekerjasama dengan Rizaldi Siagian dan
Slamet Widodo, --- keduanya adalah seniman yang telah mendedikasikan
karyanya untuk menulis puisi dan membungkusnya dalam musik tradisional
dayak, --- kami membawakan 'HUTANKU MERATAP' untuk
mendapat perhatian anda. Jika anda telah selesai menyaksikan video ini
dan anda memiliki mimpi yang sama dengan kami, bagikanlah kepada
teman-teman anda sekalian. Bersama kita dapat menyelamatkan salah satu
hutan tropis dunia.
Masa depan planet ini berada di tangan anda.
Salam,
Gekko Studio
Posted at Tuesday, April 22, 2008 by berang
Permalink
Friday, April 04, 2008
Gajah Sumatera, Nasibmu kini...
 Keinginanku untuk kembali lagi ke lokasi penelitianku untuk tugas akhir saat itu akhirnya bisa terwujudkan. Pusat Konservasi Gajah Seblat, yang terletak di sebelah Utara Provinsi Bengkulu ini aku kunjungi pertama kali pada tahun 2004. Gilakan? setelah dua puluh tahun lebih aku lahir di Bengkulu, baru tahun 2004 aku datang kesana. Setelah menyelesaikan penelitianku dan tahu betapa kompleksnya permasalahan dan ancaman kawasan ini terhadap perambahan, illegal loging, perburuan liar membuat hatiku terenyuh dan ada sebuah keinginan yang kuat untuk berbuat sesuatu terhadap kawasan ini. Sekecil apapun itu partisipasi dan kontribusiku, yang penting aku bisa melakukan sesuatu. Haruss!!! Setelah aku lulus dari kampus, gejolak dan keinginan untuk balik lagi ke PKG Seblat masih sangat besar. Diskusi dan membuat rencana-rencana peluang bagaimana caranya bisa kembali lagi ke Bengkulu terus bergulir seiring berjalannya waktu. Kajian-kajian dangkal mengenai apa dan mengapa gajah sumatera ( elephas maximus sumatranus) ini semakin terancam kehidupannya dilakukan. Tanya sana sini, telpon sana sini. Dan berakhir dengan kata "apa yang bisa kita lakukan sesuai dengan kemampuan kita?" Tahun 2007 tidak disangka ide kita untuk mendokumentasikan dan membuat film singkat mengenai keterancaman kelestarian habitat gajah di Bengkulu, dan mengupdate kondisi terakhirnya disetujui oleh Rufford Foundation. Karena kemampuan kita hanya dibidang audio visual, maka kita mencoba melakukan menyebarkan informasi mengenai keterancaman kawasan PKG ini dan keterancaman satwa-satwa yang ada didalamnya. Kita melihat bahwa kurang informasi mengenai kawasan ini dan bagaimana kehidupan satwa gajah membuat masyarakat Bengkulu kurang begitu peduli dan masa bodoh dengan gajah. Pusat Konservasi Gajah Seblat
Pada tahun melalui SK Menhut No. 658/Kpts-II/1995 kawasan yang luasnya hanya 6.865 ha ini ditetapkan sebagai Hutan Poduksi dengan fungsi khusus. Khusus karena didalamnya ada habitat gajah dan kawasan ini ingin dijadikan tempat pelatihan gajah. Keputusan ini dikeluarkan karena pada tahun 1988 konflik antara manusia dan dan gajah mulai terjadi di Provinsi Bengkulu. Di Sumatera populasi gajah pada tahun 1992 diperkirakan 2800-5000 ekor. Namun pada tahun 2007 populasi ini berkurang drastis menjadi 2400-2800 ekor ( Gajah Action Plan 2007). Sementara populasi di Bengkulu saat aku tanya dengan bapak-bapak yang ada di BKSDA Bengkulu, jumlahnya pada tahun 1992 sekitar 375-390 ekor. Sedangkan sekarang jumlah populasinya sekitar 120-140 ekor. Semakin terancamnya keberadaan satwa gajah di Asia termasuk di Indonesia pada tahun 1996 IUCN sudah memasukkan satwa gajah kedalam The IUCN Red List of Threatened Species atau kedalam daftar merah spesies terancam punah. Dan saat ini satwa gajah juga sudah masuk kedalam Apenddix I CITES. Di Bengkulu terdapat dua kantong gajah yang tersisa, yaitu Kelompok PKG Seblat (HPT Lebong Kandis-Hutan Produksi Air Rami), dan Kelompok Air Teramang. Sebelumnya pada tahun 1992 terdapat delapan kantong habitat gajah. Jumlah gajah liar yang ada di PKG Seblat saat ini diperkirakan sekitar 60-80 ekor. Selain itu juga teradapat 21 ekor gajah binaan dan terdapat flora dan satwa lainnya seperti tapir, harimau sumatera, beberapa jenis primata dan berbagai jenis burung. Gajah bianaan ini ditangkap pada tahun 90'an saat banyaknya gajah-gajah yang masuk ke perkebunan dan pemukiman masyarakat. Setiap ekor gajah binaan dirawat dan dijaga oleh seorang pawang gajah atau mahot. Namun sekarang berdasarkan keputusan pemerintah dan kesepakatan para pemerhati gajah tidak diperkenankan lagi melakukan penangkapan gajah-gajah liar untuk dijinakan.  Luas kawasan PLG Seblat yang hanya 6.865 ha tidaklah memadai sebagai habitat kelompok gajah di PLG Seblat. lokasi ini telah dikelilingi oleh perkebunan sawit yang ikut menyebabkan pergerakan gajah menjadi semakin sempit dan hanya ada satu koridor yang menghubungkan antara PLG Seblat dengan TN Kerinci Seblat. Nasib koridor ini terakhir aku kesana sudah terputus oleh perambah dan sudah menjadi pemukiman masyarakat. Dan sekarang habitat gajah ini sudah terkurung oleh perkebunan sawit dan pemukiman masyarakat. Yaaa... kita tinggal tunggu saja human elephant conflicts yang akan terjadi di Bengkulu. Idealnya satu ekor gajah membutuhkan luas areal untuk makannya adalah 200 ha. Kebutuhan makan gajah adalah 5-10% dari berat badannya. Jika populasi gajah di PKG Seblat diperkirakan sekitar 80 ekor, maka luas areal yang dibutuhkan adalah 16.000 ha lahan berhutan. Ancaman terhadap kelestarian satwa dan flora di kawasan hutan PKG Seblat saat ini semakin kompleks. Mulai dari pembukaan lahan hutan untuk perladangan oleh masyarakat, perambahan, illegal loging serta perburuan liar. Maraknya perburuan gading gajah, membuat kelangsungan hidup gajah-gajah jantan yang ada di PKG Seblat semakin terancam. Selain itu juga banyak gajah-gajah yang dibunuh disaat mereka memasuki areal perkebunan masyarakat. Seandainya tidak ada gajah di dunia ini knapa?
Pertanyaan tersebut keluar disaat kita berdiskusi panjang dan berdebat bagaimana caranya menyelamatkan habitat gajah di Bengkulu. Karena sudah mentok dan kompleks permasalahan yang ada di PKG Seblat, dengan putus asa karena tidak menemukan jalan keluarnya seorang teman mengeluarkan pertanyaan itu. "Apa yang terjadi jika tidak ada gajah di dunia? tidak ada ada bencana bukan?". Semua orang langsung diam dan tidak bisa menemukan jawabannya. Karena semua bingung, akhir aku menyeletuk "ya.. setiap yang namanya makhluk Tuhan itu punya hak untuk hidup dan punya tempat tinggal". Apakah ada jawaban lain selain jawabanku??  Diskusi ini terus berlanjut, beberapa minggu yang lalu aku kembali lagi ke Bengkulu untuk berdiskusi dengan Kepala BKSDA Bengkulu beserta beberapa staffnya, NGO lokal dan beberapa temen media lokal. Mencoba mencari titik temu agar kepentingan keselamatan gajah dari kepunahan dan kebutuhan hidup masyarakat sekitar kawasan bisa terpenuhi. Namun sampai sekarang belum ada titik temunya. Belum ada win win solution yang kita dapatkan. Peningkatan status kawasan menjadi kawasan konservasi yang lagi diupayakan oleh BKSDA Bengkulu dan beberapa NGO disana masih belum bisa direalisasikan. Kepentingan bagi masyarakat atas keberadaan kawasan konservasi diwilayah mereka belum bisa diramalkan secara baik. Sampai sekarang Kita masih mencari jawaban-jawaban apa manfaat bagi masyarakat jika status kawasan yang semula hutan produksi dengan fungsi khusus menjadi hutan konservasi?, kenapa gajah harus diselamatkan?, mengapa pemerintah daerah lebih baik memperluas areal perkebunan sawit daripada memikirkan upaya-upaya untuk penyelamatan gajah?, mengapa masih terjadi perburuan liar, mengapa masih terjadi illegal loging dan perambahan disekitar kawasan PKG Seblat? Apa yang salah dan mengapa semuanya bisa terjadi?? Kalo menurut pikiranku yang pendek ini. Semuanya perlu keseimbangan. Pembangunan dan peningkatan segi ekonomi dan kesejahteraan masyarakat sangat perlu untuk ditingkatkan. Tapi kelestarian sebuah ekosistem dan keseimbangan alam juga sangat perlu diperhatikan. Nah, bagaimana mempertemukan berbagai kepentingan ini, dengan latar belakang orang yang berbeda-beda?? Tidak gampang ternyata.  Yang membuat aku menjadi sedih adalah pernyataan yang keluar dari seoarang pawang gajah yang ada di PKG Seblat. "Kalo kita tidak bertindak cepat dalam mengatasi permasalahan-permasalahan yang ada di PKG Seblat ini, kemungkinan 5-10 tahun kedepan gajah-gajah liar yang ada di Bengkulu ini berikut gajah jinaknya sudah dipastikan tidak ada lagi di Bengkulu ini" ujarnya tegas kepadaku. Aku ngga bisa bayangkan seandainya anak cucuku nanti bertanya padaku "Pak, katanya di Bengkulu ada Gajah ya?? Liat gajah yuk pak". Kemana aku harus mengajak anak cucuku untuk melihat gajah di Bengkulu. Gajahnya sudah tidak ada lagi. Kasihan benar anak-anak kita dan generasi penerus kita nanti, menikmati indahnya alam, flora dan fauna di Nusantara ini hanya dari sebuah buku dan cerita-cerita, yang mungkin aja nanti gajah hanya sebuah dongeng??.....
Posted at Friday, April 04, 2008 by berang
Permalink
Friday, December 28, 2007
Suku Anak Dalam Yang Semakin Terpinggirkan
"Tidak mungkin manusia bisa merubah ataupun merobohkan
pohon-pohon yang besar disini. Bagaimana caranya mereka bisa merobohkan
pohon-pohon yang besar dan menghabiskan hutan yang selebat ini".
Itulah yang diucapkan oleh Temenggung Nggrip sekitar dua puluh tahun
yang lalu kepada kelompoknya disaat mendengar kabar dari masyarakat
luar bahwa hutan mereka akan dijadikan areal transmigrasi dan
perkebunan skala besar. Temenggung yakin klo hutan mereka yang teramat
luas ini tidak akan pernah habis. Pohon-pohon yang besar, tajuk pohon
yang rindang dan tinggi serta banyaknya hewan buruan yang bisa dimakan
tidak akan hilang.
Tetapi. Kenyataannya benar-benar diluar dugaan Pak Temenggung disaat
satu tahun berikutnya kembali lagi ke lokasi yang sama. Tidak ada lagi
hutan yang lebat nan rindang. Tidak ada lagi tajuk-tajuk pohon yang
berdiri dengan sombong. Semua sudah hancur. Semua sudah tumbang. Suara
mesin Chainsaw tak ada henti-hentinya menjerit. Alat berat mondar-mandir memindahkan log ukuran besar kedalam truck logging dan diangkut keluar lokasi penebangan.
Itulah sekilas cerita Pak Temenggung kepadaku tentang awal mulanya
hutan mereka perlahan-lahan mulai hilang. Dimana, saat itu mereka belum
tahu klo ada Chainsaw yang bisa menumbangkan semua jenis pohon yang sebesar apapun itu. Disaat belum tahu klo ada Buldozer dan mesin kepiting yang mampu mengangkut kayu gelondongan tanpa henti dan tak mengenal lelah.
"Kami semua menangis dan sangat terpukul disaat menyaksikan hutan-hutan kami yang dibabat habis" ungkap Pak Temenggung disaat aku masih terharu dan bengong mendengar cerita-cerita beliau.
Mendengar cerita dan pengalaman dari Pak Temenggung membuatku merinding
sekaligus terharu plus sedih. Aku bisa membayangkan mereka yang masih
lugu dan tidak pernah mendapatkan berbagai informasi dari luar,
dibodohi, ditindas dan dianggap manusia dari planet lain yang tidak
layak untuk dipikirkan nasibnya.
Manusia-manusia pintar yang dari kota, berduit dan punya jabatan dengan
tenangnya membabat hutan-hutan mereka. Menindas kehidupan mereka.
Memandang jijik anak-anak rimba. Aku terkadang ngga habis pikir, kenapa
mereka diperlakukan seperti itu. Apa salah Suku Anak Dalam??
Perkebunan Sawit Skala Besar Membuat Mereka Lapar
Hampir seperti di daerah-daerah lainnya di Pulau Sumatera, Kalimantan
dan Papua. Konversi lahan dan hutan menjadi tanaman kelapa sawit dalam
skala besar sekarang ini memang sedang menjadi tren. Tidak peduli
apakah itu menguntungkan bagi masyarakat lokal atau tidak. Mengganggu
serta merusak tatanan ekologi kawasan disekitarnya, yang penting
perkebunan kelapa sawit skala besar dan mimpi untuk menjadi produsen
minyak kelapa sawit terbesar di dunia harus terwujud. Serakah memang.
Aku bingung, mereka tahu atau tidak ya bagaimana masyarakat lokal
termiskinkan dengan adanya perkebunan kelapa sawit ini. Seperti yang
terjadi di Jambi. Suku Anak Dalam yang hidupnya selama ini berburu dan
berpindah-pindah harus merubah pola hidup dan kebiasaan mereka
dikarenakan hutan mereka sudah mulai berkurang dan bahkan sudah tidak
ada lagi. Dan dampak yang paling buruk adalah mereka harus mencuri ke
perkampungan orang-orang transmigrasi karena lapar dan tidak tahu harus
makan apa. Mencuri buah-buah sawit yang sudah dipanen, mencuri tanaman
di ladang-ladang orang kampung. Pekerjaan yang dulu memang ngga pernah
mereka lakukan. Boro-boro mencuri, keluar dari hutan aja jarang.
Kebayangkan perubahannya.
Pada tanggal 2 November 2007 aku mengunjungi Orang Rimba di Desa Lantak
Seribu (Nauran Duren) Kec. Penenang Kab. Merangin. Di lokasi ini kami
menemui kelompok orang rimba yang jumlahnya 14 KK dan hanya menempati
areal 9 ha. Hutan mereka sudah habis. Kawasan mereka sudah dikelilingi
perkebunan sawit. Lahan yang hanya 9 ha tersebut hanya ditanami tanaman
karet dan buah-buahan. Tidak bisa berharapa banyak memang dari apa yang
mereka tanam. Perkebunan sawit yang mengelilingi lahan mereka adalah PT
Krisna Duta Agro Indo (Grup Sinar Mas), yang luas areal untuk kebun
intinya kurang lebih 900 ha dan tanaman plasma kurang lebih 20.000 ha.
Disitu, aku melihat raut sedih dan seolah-olah adanya keputusasaan
seorang manusia. Duduk termenung memperhatikan anak-anaknya bermain
dengan pikiran yang jauh mengambang memikirkan esok harus makan apa...
Mereka menyadari, bagaiamanapun mereka harus bisa bertahan hidup dan
harus melawan arus perubahan hidup yang mengalir begitu deras.
Kemiskinan, Kesehatan yang tidak terjamin dan rawan akan berbagai
penyakit akan selalu membayangi mereka. Pedulikah mereka? Pedulikah
kita? Apa yang bisa kita perbuat??
Struktur Kepemimpinan Suku Anak Dalam
Di Suku Anak Dalam memang dari turun temurun sudah terbentuk
para pemangku jabatan di komunitasnya dengan tugas-tugas yang dibuat
berdasarkan kesepakatan. Jabatan-jabatan itu adalah;
- Tengganas : Jabatan tertinggi di komunitas. Tidak bisa kemana-mana. Klo ada sesuatu urusan kita harus datang ke Tengganas
- Temenggung : Bisa dipanggil, klo ada sesuatu yang kurang jelas bisa menanyakan ke Tengganas
- Depati : Sama dengan Temenggung
- Mangku : Untuk memimpin seluruh rakyat atau kelompok dan yang memberikan aturan
- Menti : Wakil Mangku, yang membantu mangku dan orang kepercayaan Mangku
- Anak Dalam : Bisa jadi orang kepercayaan Mangku dan mengkaji kesalahan rakyat
Rotan. Satu-satunya harapan.....
Suatu pagi yang cerah dan cukup dingin. Aku duduk disebuah
bangku yang terbuat dari ptongan-potongan papan dengan mengarah ke
tajuk-tajuk hutan Taman Nasional Bukit Dua Belas. Angin pagi yang
menerpa wajahku membuatku serasa ingin kembali lagi kedalam sleeping
bag yang aku bawa dari Bogor.
Pagi ini aku menyaksikan orang-orang rimba ramai-ramai mengangkut hasil
rotan yang meraka ambil beberapa hari yang lalu didalam kawasan hutan
Taman Nasional Bukit Dua Belas (TNBD). Kabarnya hari ini rotan-rotan
tersebut akan dibeli oleh oleh pengumpul dan akan diangkut dengan
mobil. Mereka mengakut rotan-rotan ini dari kemarin sore. Ditanah yang
datar didepanku ratusan batang rotan jenis tebu-tebu dan manau sudah
terkumpul berdasarkan pemiliknya. Orang tua, dewasa, anak-anak,
laki-laki dan perempuan, semua bekerja mengangkut rotan. Maklum, hanya
rotanlah yang sampai sekarang ini hasil bumi yang bisa mereka andalkan
untuk menghasilkan uang dan diberi izin untuk mengambil didalam kawasan
taman nasional dengan catatan ikut menjaga kelestarian taman nasional
dan menjaga kawasan dari kegiatan illegal logging
yang dilakukan pihak lain dan oknum-oknum tertentu. Mereka bekerja
dengan penuh semangat dan kompak. Puluhan orang berjalan beriringan
mengikuti jalan setapak yang ada dengan beberapa potong rotan
dipundaknya. Terlihat juga seorang perempuan yang bertelanjang dada,
hanya dibaluti kain mengangkut rotan sambil menggendong anaknya yang
masih kecil. Mungkin umurnya kurang dari satu tahun.
Setelah beberapa kali bolak-balik mangankut rotan, mereka beristirahat.
Seorang ibu muda membawakan nasi yang masih berada didalam periuknya.
Terlihat olehku mereka hanya makan nasi tanpa lauk. Mereka dengan
tenang makan bersama-sama dengan keluarganya. Entah... mereka mengeluh
atau tidak dengan kehidupan yang mereka alami. Aku hanya memperhatikan
mereka dengan tersenyum.
Sambil mendengarkan lagu Low Man's Lyric dari Metallica
yang keluar dari iPod yang berada disampingku, aku terus memperhatikan
kegiatan-kegiatan mereka dan mencoba mempelajari filosofi hidup mereka.
Aku membayangkan, gimana jika aku diposisi seperti mereka. Sanggupkah
aku menjalaninya??
Teringat yang diucapkan oleh Pak Temenggung Nggrip kepada ku "Kami
harapkan hutan ini jangan diganggu lagi. Biarlah anak-anak kami maju.
Tapi hutan jangan diganggu. Klo bisa hutan dan adat tetap ada, walaupun
anak-anak kami pemikirannya sudah maju"
"Kami senang banyak orang atau tamu yang datang, memperjuangkan rimba
kami, adat kami. Bukan untuk memperkaya diri mereka pribadi. Banyak
teman banyak rezeki".
Semoga impian Pak Temenggung bisa terwujud. Tapi yang jelas, aku ngga
mungkin kaya dengan kunjungan-kunjunganku kesetiap daerah. Yang ada aku
selalu meringis ...
Dan sedih....
Posted at Friday, December 28, 2007 by berang
Permalink
Monday, October 22, 2007
"Dari Bengkulu ya?? yang kemaren kena gempa itukan? Gimana kabar keluarga disana?". Itulah pertanyaan yang selalu di lontarkan orang-orang disaat aku mengunjungi suatu daerah dan memperkenalkan diriku serta daerah asalku ataupun bertemu dengan teman-teman kerja/kuliah. Bengkulu menjadi terkenal dengan adanya gempa yang merupakan salah satu gempa terbesar di Indonesia ini. Semua orang jadi tahu Bengkulu. Ingat betul disaat aku masuk kuliah dulu, disaat belanja disebuah swalayan seorang ibu bertanya darimana asalku, "saya dari Bengkulu bu". "Bengkulu?. Bengkulu itu di Kalimantan ya?" ibu itu kembali bertanya kepadaku. "Bukan bu, Bengkulu itu disebelahnya Lampung, dekat Palembang" jawabku spontan sekaligus jengkel karena kota kelahiranku ternyata ada juga orang yang ngga tahu dimana lokasinya. Jika mengingat pertanyaan ibu itu sekarang aku menjadi tersenyum sendiri. Sekarang pertanyaannya pun berbeda. Semua orang tahu Bengkulu. Mungkin ada hikmahnya juga dengan adanya gempa di Bengkulu pikirku dalam hati. Tanggal 8 Oktober 2007 aku pulang ke Bengkulu. Setiap tahunnya, suasana lebaran akan lebih meriah jika dirayakan di kampung bersama keluarga. Selain pulang merayakan lebaran aku juga ingin melihat secara langsung kondisi Bengkulu pasca gempa tanggal 12 Septemer 2007. Dikarenakan pesawatku delay hampir satu jam, saat tiba di Bengkulu aku sudah ketinggalan mobil yang menuju Arga makmur, 74 Km sebelah utara Kota Bengkulu. Pesawatku baru take off kurang lebih pukul 16.00 WIB. Saat tiba di terminal sungai hitam, jam yang melekat ditanganku sudah menunjukkan pukul 18.00 WIB. Walhasil, setelah buka puasa aku duduk termenung sendiri memikirkan bagaimana caranya aku sampai dirumah. Untungnya malam itu ada sepupuku yang mau menjemputku diterminal. Kerusakan ternyata di luar dugaanku... Setelah istirahat selama satu hari dirumah, hari rabu tanggal 10 Oktober 2007 dengan sepeda motor kepunyaan bapakku aku langsung menuju Lais, yang katanya merupakan daerah yang menjadi pusat gempa di Bengkulu. Rute yang aku ambil dari perjalanan ini adalah Arga Makmur-Lais-Kota Agung-Bengkulu. Setelah mendapat informasi dari beberapa teman, sanak saudara dimana saja lokasi yang terparah akibat gempa, aku langsung menuju lokasi-lokasi yang disebutkan. Pertama sekali yang aku lakukan adalah mengelilingi Kota Arga Makmur. Di Arga Makmur aku melihat beberapa bangunan yang hancur/rusak parah dan rumah-rumah yang retak-retak. Salah satu bangunan baru yang rusak parah adalah dealer YAMAHA yang baru ditempatin sekitar dua bulan sebelum gempa. Sekitar lima menit perjalanan menggunakan sepeda motor, aku tiba di Desa Taba Baru. Yang menarik sekaligus membingungkan orang-orang disana adalah tanah longsor. Tanah longsor yang terjadi didesa ini bukan longsor seperti biasanya, tetapi tanah yang longsor tersebut bisa bergerak alias bergeser sejauh kurang lebih 200 meter menjauhi tebing yang longsor tersebut. Lahan pertanian penduduk yang ditanami cokelat dan kopi serta lahan persawahan yang berada disekitar tanah longsor rata tertimbun tanah. Diperkirakan kedalaman tanah yang menutupi lahan pertanian masyarakat sekitar 1-2 meter. Karena lokasi longsor ini sangat dekat dengan jalan raya, banyak masyarakat yang berhenti dari kendaraannya untuk melihat kejadian ini. Luasnya tanah menutupi lahan masyarakat dan sangat rata seolah-olah habis di buldoser menjadi tontonan yang menarik bagi mereka. Dilokasi tanah longsor ini terdapat dua buah rumah hancur total dan salah satunya ikut jatuh bersama tanah yang longsor. Untungnya saat terjadi longsor, penghuni rumah sudah mengosongkan rumah sehingga tidak terjadi korban jiwa. Disaat sedang asyik memotret tanah-tanah yang longsor, seorang laki-laki paruh baya menghampiriku. "Klo ndak turun kebawah, mari aku antarkan. Tapi kito harus mutari tebing ini" (klo mau turun kebawah, mari saya antarkan. Tapi kita harus memutari tebing ini) sapanya. Karena aku juga ingin melihat dari bawah tanah longsor ini, akhirnya aku menyetujui ajakkannya. Sambil ngobrol, kami memutari tebing yang longsor. Ternyata laki-laki ini adalah pemilik rumah yang hancur akibat gempa dan tanah longsor yang barusan aku ambil fotonya. Ketika sudah sampai dibawah, dekat lahan persawahan masyarakat. Aku memperhatikan kondisi tanah disekitarku. "Gila... tanah bisa bergeser seluas dan sepanjang ini. Sekuat apa goncangan dan goyangnya saat terjadi gempa itu ya. Kok bisa begini" gumamku dalam hati. Saat aku tanyakan menurut bapak kenapa bisa tanah sampai seperti ini, beliau hanya geleng kepala. "Idak ado yang tau knapo sampai cak ini, waktu tu hari dah mulai kelam. Dan kito idak ado yang berani nengok. Kito cuma nangis negok rumah hancur samo suaro gemuruh tanah yang longsor tu" (Ngga ada yang tau kenapa sampai seperti ini, saat itu hari sudah mulai gelap. Dan kita tidak ada yang berani melihat. Kita hanya menangis melihat rumah hancur dan suara gemuruh tanah yang longsor) jawabnya singkat. Hampir satu jam aku dilokasi longsor. Setelah selesai mengambil beberapa gambar. Aku mohon pamit untuk melanjutkan perjalananku berikutnya yaitu desa-desa yang berada di pantai lais. Dari Desa Taba Baru sampai Lais aku melihat banyak terdapat rumah yang hancur dan retak-retak pasca gempa. Dan juga didepan rumah masing-masing masih terdapat tenda-tenda darurat. Setibanya di Lais, aku terus melanjutkan perjalanan menuju Desa Kota Agung. Yang memang menurut banyak beberapa data, desa ini merupakan desa yang terparah akibat gempa untuk wilayah Kabupaten Bengkulu Utara. Disini, aku menyaksikan sendiri bahwa hampir seluruh rumah yang ada didesa ini hancur dan rata dengan tanah. Terlebih lagi jika anda melewati Dusun Penyangkak. Sekitar 70 rumah di dusun ini hancur total. Tetapi sekarang sudah berdiri rumah-rumah darurat yang berdindingkan triplek bantuan dari Dompet Duafa. Sepanjang jalan aku benar-benar meringis melihat rumah-rumah yang hancur. Pecahan-pecahan dinding yang terbuat dari batu bata merah berserakan disepanjang jalan. Sekolah, masjid, jalan. Semua hancur. Dan yang membuat aku lebih terhenyak lagi, disaat aku menanyakan kepada seorang ibu yang bersama suaminya sedang duduk diam didalam tenda. "Bagaimana bu keadaannya, sehat ajakan. Sudah memulai aktivitas rutin kembali? Sudah mulai berkebun lagi?" tanyaku saat itu. "Oii nak... cigai gen na semangat lak kerjo yo. Umeak bi ajua kute. La mae kebun raso ne malas nien. Ite yo awei coa nam kerjo jano-jano igai" (Oii nak, sudah tidak ada semangat lagi untuk bekerja. Rumah sudah hancur semua. Berkebun rasanya malas sekali. Kita ini sepertinya sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi). Jawab sang ibu yang menggunakan bahasa rejang. Aku melihat sendiri raut wajah sang ibu sepertinya benar-benar bersedih akan hancurnya rumah mereka. Hari itu aku bisa merasakan bagaimana dasyatnya gempa yang berkekuatan 7,9 SR. Gempa yang membuat rumah-rumah mereka hancur. Gempa yang membuat masyarakat trauma dan shock. Bagaimana gempa menggoncang Kota Bengkulu. Apalagi ditambah dengan cerita-cerita ngeri dari teman dan sanak saudara. "Waii..En, kito ko seraso di ayak-ayak disini ni. Tanah begoyang-begoyang... Kito tegak bae, bisa jatuh. Rumah ko berderik-derik seraso ndak roboh. Pokoknyo ambo trauma, klo begoyang dikit langsung lari keluar. (Waii.. En, kita ini serasa di ayak-ayak disini. Tanah bergoyang-goyang... Kita berdiri saja, bisa jatuh. Rumah ini mengeluarkan bunyi yang berderik-derik serasa mau roboh. Yang jelas saya trauma, klo ada goncangan sedikit saja langsung lari keluar)". Cerita sepupuku saat aku datang kerumahnya. Lain lagi cerita teman sepermainanku. "Waktu itu ambo di pasar En, lagi belanjo. Orang-orang berlarian ke jalan. Banyak orang-orang yang bawak motor tu jatuh... Ambo bingung, ndak balik ke rumah takut masih goyang." (Waktu itu saya masih berada di pasar En, belanja. Orang-orang berlarian ke jalan. Banyak orang-orang yang membawa motor jatuh... Saya bingung, mau pulang ke rumah takut masih bergoyang). "Untung la gempa ni idak malam hari. Klo malam kayak tahun 2000 kemaren. Mati galo orang Bengkulu ko". (Untunglah gempa ini tidak terjadi dimalam hari. Klo malam seperti gempa di tahun 2000. Mati semua orang Bengkulu ini). Ucap seorang bapak ketika aku berada di Dusun Penyangkak. Gempa Penutup
Sehari sebelum menjelang lebaran Bengkulu kembali di goncang gempa. Saat itu aku sedang berada dirumah teman dan sedang ngobrol-ngobrol. Disaat sedang asyik bercerita, ternyata rumah bergoyang. "Ahh.. ternyata aku merasakan juga gempanya" ucapku dalam hati. "Gempo....gempo..." teriak orang-orang diluar. Banyak orang berada diluar rumah. "Semoga la ini gempa penutup kareno menjelang akhir puaso. Pertamo gempo kan pas ndak puaso" (Semoga ini gempa penutup karena menjelang akhir puasa. Pertama gempa kan ketika mau puasa) ucap seorang ibu-ibu yang berada diluar. Ingin melihat Tsunami... Rabu tanggal 17 Oktober 2007 aku bersama bapakku, adik ku yang bungsu bersama seorang temannya menyusuri daerah pesisir pantai yang menuju Putri Hijau. Karena suasananya masih lebaran, dan teman-temanku masih pada mau lebaran. Akhirnya aku mengajak mereka saja untuk menemaniku. Anggap saja wisata gempa ucapku disaat mengajak mereka. Dengan mobil Daihatsu Feroza sekitar jam 8.00 WIB kami berangkat. Desa yang pertama yang ingin aku tuju adalah Desa Serangai. Dari banyak informasi yang aku terima, desa ini terkena dampak tsunami akibat gempa. Sepanjang perjalanan menuju Desa Serangai masiha banyak aku melihat bagunan-bangunan yang hancur. Beberapa orang sudah mulai memperbaiki rumahnya yang rusak. Mengumpulkan puing-puing rumah yang hancur. Diperjalanan juga aku banyak menemui jalan-jalan raya yang terbelah. Ngga tau terbelah karena gempa atau karena penyebab lain. Disaat mau memasuki pemukiman masyarakat di Desa Seranagi, pemandangan menjadi lain. Dipinggir-pinggir jalan banyak kayu-kayu, sampah berserakan seperti habis terkena banjir. "Sepertinya benar, ini terkena dampak tsunami" gumamku dalam hati. Dikiri jalan aku memperhatikan beberapa keluarga sedang membuat pondok untuk menggantikan tendanya yang terlalu kecil. Disebelah keluarga itu ada keluarga yang lain sedang mengumpulkan kayu-kayu dari rumahnya yang hancur karena diterjang ombak. Jarak antara rumah penduduk disini dengan pantai memang sangat dekat. Mungkin antara 20-30 meter saja. Aku mendekati dan bergabung dengan keluarga yang sedang membangun sebuah pondok. "Berapo rumah yang hancur karno tsunami ini?" (Berapa rumah yang hancur karena tsunami ini) tanyaku kepada mereka. "Banyak, sepanjang ini sampe jembatan itu, yang disebelah kiri jalan. Hancur galo. Ado rumah yang hanyut sampe di seberang jalan ini" (Banyak, sepanjang ini sampai dengan jembatan itu, yang disebelah kiri jalan. Hancur semua. Ada rumah yang hanyut sampai di seberang jalan ini) jawabnya sambil menunjukkan lokasi rumah yang hanyut. Ketika aku berada disana, beberapa masyarakat mulai mengangkut puing-puing rumahnya untuk pindah. Mereka mulai membangun rumah kembali di lokasi yang tidak terlalu jauh dari lokasi semula yaitu diseberang jembatan Serangai. Setelai selesai mengambil beberapa gambar di Desa Serangai aku kembali melanjutkan perjalanan ke Ketahun dan Putri Hijau. Tujuan terakhirku. Selama perjalanan sambil nyetir mobil aku berpikir. "Dari beberapa hari yang lalu aku telah banyak menyaksikan dampak-dampak gempa yang katanya salah satu gempa terbesar di Indonesia ini. Semuanya hancur dan porak-poranda. Bumi ini serasa diacak-acak. Bagaiamana klo gempa sebesar ini menimpa Jakarta ya?? mungkin rata dengan tanah semua gedung-gedung pencakar langit itu. Beruntunlah engkau orang-orang Jakarta yang belum merasakan dasyatnya gempa seperti di Bengkulu. Semua kembali kepada kehendak-Nya"......
Posted at Monday, October 22, 2007 by berang
Permalink
Sunday, September 23, 2007
Akhirnya bisa pergi ke Papua...
Siang itu kamis tanggal 28 Agustus 2007 aku diberitahu secara
mendadak untuk berangkat ke Sorong, Papua untuk mendokumentasikan acara
sidang adat masyarakat Knasaimos Distrik Seremuk, Sorong Selatan.
Rasa kaget bercampur senang karena impianku untuk menginjakkan kaki di tanah Papua akhirnya tercapai. "Inilah
pulau besar di Indonesia yang belum aku datangi, setelah mengunjungi
Papua, akhirnya aku sudah sedikit mengelilingi pulau-pulau besar
nusantara ini" baggaku didalam hati. Salah satu cita-citaku adalah
bisa melihat berbagai macam suku bangsa yang ada di Indonesia, melihat
kampung-kampung yang ada di Indonesia. Betapa bahagianya.
Karena keputusan ini mendadak, otomatis aku kesulitan untuk mendapatkan
tiket penerbangan ke Sorong. Terutama untuk bisa berangkat bersama dua
teman lainnya. Dikarenakan hari seninya sudah harus berada di Sorong,
maka penerbanganku hanya ada dua pilihan yaitu pada sabtu pagi-pagi
menggunakan pesawat Merpati Nusantara dan minggu malam dengan Lion Air.
Sebenarnya aku ingin berangkat pada hari minggu biar tidak
terburu-buru. Tetapi disaat mendengar bahwa pesawat ini akan transit
sebanyak tiga kali (Makassar, Surabaya dan Ambon) akhirnya aku memilih
berangkat dengan Merpati Nusantara yang hanya transit satu kali yaitu
di Makassar.
Jum'at malam pukul 12.30 WIB aku baru selesai packing barang-barang
yang akan aku bawa ke Sorong. Aku belum sempat packing pada siang
harinya dikarenakan pergi ke Jakarta untuk membeli perlengkapan
pendokumentasianku yaitu DVCam cassete.
Selesai packing aku berusaha keras untuk tidur karena pukul dua dini
hari aku sudah harus berangkat ke Bandara Soekarno-Hatta. Pesawat akan
take off pukul 05.00 WIB menuju Makassar dan selanjutnya menuju Sorong.
Kira-kira pukul delapan waktu Makassar pesawat kami tiba di Makassar.
Pesawat Merpati Nusantara transit di Makassar selama 30 menit. Untuk
mengisi waktu luang, aku membeli sebuah buku karangan Baskara T Wardaya
yang berjudul Membongkar Supersemar (yang sedikit membuatku jengkel,
sepulang dari sorong buku ini tertinggal di pesawat). Rasa penasaran
mengenai kebenaran tentang Supersemar ini membuat aku ingin membaca
buku karangan Baskara ini.
Kampung Tofot, Distrik Seremuk
Pukul lima sore pada hari senin tanggal 3 September 2007 kami tiba adi
Kampung Tofot, Distrik Seremuk, Kabupaten Sorong Selatan. Setelah
menempuh perjalanan selama kurang lebih sembilan jam dengan menggunakan
jalur darat. Jarak antara Sorong-Tofot kurang lebih 46 Km. Tetapi
dikarenakan kondisi jalan yang sangat jelek (lebih banyak lumpur dan
tanahnya daripada jalan yang beraspal) perjalanan menjadi sangat lama.
Dan kendaraan umum yang bisa melewati jalan ini hanya mobil-mobil yang
mempunya double gardan. Yang sedikit membuatku kaget, angkutan disini
adalah mobil-mobil Mitsubishi Strada, Ford Ranger, dan Toyota HILUX. Di
Bogor ataupun di kota-kota kendaraan ini adalah kendaraan-kendaraan
mewah yang disayang-sayang oleh yang punya.
Sepanjang perjalanan aku banyak melihat kendaraan-kendaraan mewah
ini lalu lalang dengan warna-warna mobilnya sudah tertutup lumpur. Aku
sangat menikmati perjalanan ini. Menikmati roda-roda mobil yang
melewati dalamnya lumpur ditengah hutan-hutan lebat. Dengan gagahnya
mobil Strada ini melewati lumpur-lumpur disepanjang jalan seperti tiada
halangan yang berarti. Walaupun berjalan pelan, tapi pasti. Ingin
rasanya aku yang membawa mobil dimedan seperti ini.
Kampung Tofot merupakan salah satu kampung yang berada di wilayah adat
Knasaimos. Sekarang di kampung ini ada 35 KK, dimana sebelumnya ada 65
KK. Karena kampung ini dipecah menjadi dua kampung yaitu Kampung Sbir,
maka sebagian masuk ke kampung Sbir. Jarak Kampung Tofot dan Sbir
sangat dekat. Hanya dipisahkan oleh sebuah sungai yang mengalir
disepanjang kampung. Di wilayah adat Knasaimos terdapat 16 kampung,
yaitu :
1) Haha, 2) Woloi, 3) Kalaugin, 4)
Tofot, 5) Sbir, 6) Srer, 7) Gamaro' 8) Laswat, 9) Manggroholo, 10)
Sira' 11) Kawowok, 12) Komanggaret, 13) Sayal, 14) Kayabo, 15) Sirir,
16) Kanaya KNASAIMOS
merupakan gabungan dari lima suku yang ada di wilayah Seremuk, yaitu
Masyarakat suku Kna, Saifi, Imian, Ogit dan Srer. Knasaimos telah
terbentuk menjadi masyarakat otothon dan memiliki struktur pemerintahan
adat sejak terjadi dan beradanya Komunitas Adat Knasaimos di wilayah
hukum adat Seremuk.
Sidang V Musyawarah Adat Suku Knasaimos Seremuk
Suara dari pengeras suara yang memberikan pengumuman untuk bergotong
royong mempersiapkan segala sesuatu untuk persiapan sidang adat membuat
tidur kami terbangung. Aku pun langsung melihat dari jendela kaca nako
rumah dimana tempat kami menginap. Ternyata sudah banyak masyarakat
yang berkumpul dan suasananya begitu semangat. Ketua Adat Knasaimos
yaitu Pak Fredrik Sagisolo langsung memberikan arahan dan apa saja yang
harus dipersiapkan dan dikerjakan.
Dengan membagi beberapa kelompok dan satu kelompok terdiri dari kaum
perempuan, mereka mulai bekerja. Ada yang memasang spanduk, memasang
tenda dari terpal, memotong kayu bakar, membersihkan balai desa dan
memasak untuk para tamu-tamu yang datang. Masyarakat Kampung Tofot yang
kali ini menjadi tuan rumah sidang adat yang kelima ini sangat antusias
dan semangat untuk mempersiapkan segalanya agar sidang bisa berjalan
dengan baik. Sidang adat memang sudah beberapa kali dilakukan dan
selalu berbeda tempat. Pada tahun 1998 dilakukan di Kampung Sayal
dimana pra sidang di Kampung Haha. Sidang ini untuk membentuk
pengurusan Masyarakat Adat Knasaimos.
Sidang Adat V yang berlokasi di Kampung Tofot ini bertemakan "Menerima
dan Menentukan", dengan sub tema "Menata diri berasaskan sejarah dalam
musyawarah untuk menentukan hidup sejati diatas tanah leluhurnya".
Salah satu tujuan sidang adat ini adalah untuk menumbuh kembangkan
kesadaran masyarakat adat Knasaimos dan pihak lain untuk dapat mengakui
keberadaan Hak-Hak Dasar Masyarakat Adat Knasaimos dalam berbagai aspek
kehidupan. Didalam sidang ini masyarakat adat Knasaimos banyak
mengundang berbagai pemateri dan fasilitator untuk memberikan
pengertian-pengertian kepada masyarakat adat baik itu mengenai
keberadaan sumberdaya alam yang ada, bagaimana mengelola dan
menyelamatkan hutan, sejarah masyarakat adat Knasaimos, dan bagaimana
meperjuangkan hak-hak masyarakat adat.
Ada yang membuatku terharu disaat proses sidang yang dilakukan
selama empat hari ini, yaitu disaat masyarakat adat menonton film "The Last Frontier",
film yang dibuat oleh Telapak dan EIA mengenai penebangan liar di
Papua, salah satunya di wilayah mereka dan diselundupkan ke Cina.
Ribuan kayu log diangkut keluar kampung mereka dan meninggalkan
berbagai luka bagi masyarakat. Saat itu saya perhatikan satu-persatu
wajah mereka yang sedang serius menonton. Raut sedih dan terkadang
menggelengkan kepala melihat kayu-kayu mereka ditebang dan diangkut ke
kapal. Dalam hati aku menjerit "apakah akan selalu seperti ini
nasib masyarakat adat yang ada disekitar hutan, yang memiliki hak penuh
atas keberadaan hutannya? hanya bisa melihat kehancuran atas hutan yang
mereka miliki. Dimiskinkan atas kekayaan alam yang mereka miliki. Ini
sangat tidak adil !!!"
Disaat film telah selesai aku mencoba memberikan pertanyaan kepada mereka. "Bagaimana menurut bapak film tadi? apa yang bapak rasakan sekarang?" tanyaku kepada salah satu bapak yang sudah menonton film itu. "Film
itu sangat terharu bagi kami, hutan-hutan kami habis, kayu-kayu yang
sudah ratusan tahun ditebang. Kami terlambat untuk sadar akan hal ini.
Kami harap dengan adanya sidang adat ini masyarakat semakin sadar dan
tidak dibohongi lagi oleh perusahaan-perusahaan, oleh orang-orang yang
datang untuk menebang kayu kami. Penuh suka cita bagi kami. Kami ingin
jaga dan kelola hutan kami sendiri" jawab sang bapak secara tegas.
Malamnya disaat aku mencoba untuk memejamkan mata, aku berharap apa yang disampaikan sang bapak bisa terwujud.
"Semoga semua ketidakadilan ini berakhir, semoga masyarakat disekitar
hutan diseluruh nusantara ini semakin sadar akan keberadaan hutan
mereka dan tidak bisa dibohongi lagi oleh para cukong-cukong kayu,
perusahaan-perusahaan yang serakah akan kayu. Aku ingin selalu melihat
masyarakat disekitar hutan dan didalam hutan bisa tersenyum puas akan
keberadaan hutannya. Bukan menitikkan airmata......"
Entah kapan dan dimana aku bisa melihat itu....Senyuman itu....Hutan
yang lebat nan menghijau....Masyarakat adat yang sejahtera....
Atau hanya bisa terus bermimpi ???
Posted at Sunday, September 23, 2007 by berang
Permalink
Monday, July 09, 2007
Screening Film "Pursuing Eco Harmony"
Silahkan datang keacara kita jika memang
punya waktu luang dan ingin tahu banyak tentang Non Timber Forest
Product di India dan bagaimana masyarakat India memanfaatkan hutan
sekaligus menjaganya. --------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Bogor 5 Juli 2007
GEKKO
Studio (Telapak Audio-Visual Unit) dan NTFP Exchange Programme for
South and Southeast Asia mengundang kehadiran rekan-rekan sekalian pada
acara screening film terbaru kami berjudul "Pursuing Eco Harmony" yang
berlokasi di Tamil Nadu dan Maharastra State, India. Kolaborasi saat
ini merupakan lanjutan kerjasama antara kedua lembaga ini, setelah pada
tahun 2005 kami berkolaborasi untuk memproduksi film berdurasi 43 menit
berjudul "Voices from the Forest" yang berlokasi di Malaysia, Filipina
dan Indonesia.
Seperti
pada sequel sebelumnya, film "Pursuing Eco Harmony" akan bertutur
tentang kondisi masyarakat adat di India yang hidupnya amat tergantung
kepada hasil hutan non kayu, dan bagaimana masyarakat adat bertindak
dalam menyeimbangkan antara aspek pengelolaan dan konservasi serta
mengungkapkan tentang ancaman dan peluang yang mereka hadapi.
Di
dalam kerja kolaborasi ini, GEKKO Studio dan NTFP-EP mendapat dukungan
Ms. Rita Banerji dari Dusty Foot Production of New Delhi, India,
seorang filmaker dan aktivis lingkungan di India yang telah
mendapatkan penghargaan internasional untuk filmnya yang berjudul
"Honey Hunters of the Blue Mountains".
Adapun acara screning film ini akan berlangsung di:
Tempat: Kedai Telapak, Gedung Alumni, Jl Pajajaran no 54, Bogor
Hari/tanggal: Rabu, 11 Juli 2007
Pukul: 18.30 - 21.00 wib
Kehadiran rekan-rekan sekalian sangat kami harapkan, dalam rangka mendapatkan masukan ( feedback)
bagi editing akhir untuk film ini. Konfirmasi kehadiran serta
informasi lainnya mohon dialamatkan kepada sdri. Melly Nurmawati (
mnurmawati@gmail.com atau di no HP 0815 746 97 006).
Atas perhatiannya kami ucapkan ucapkan terimakasih.
Posted at Monday, July 09, 2007 by berang
Permalink
|
|

berangFebruary 9th 1983 (Age 26) Male Bogor
Maybe we need to sharing about
everything in this world.
The information is very important for the peoples.
For the good future and sustainability.
Childrens must be smile.
But sometimes we don't care about them,
about their future.
We just caring about ourselves.
Now.... forests are gone and the environment is broken.
Remember... life in this world very fast.
And, you can't eat your money.
============================
All pictures taken from http://berangberang.blog.friendster.com/
You also can see my pictures in my Facebook
============================
|
|