Judul diatas merupakan salah satu kesimpulan saya ketika mencoba mewawancarai beberapa pihak
yang berhubungan dengan upaya penyelamatan DAS Air Bengkulu. Baik NGO,
Pejabat Kota/Kepala Dinas dan Masyarakat yang berada di hulu dan hilir
DAS Air Bengkulu.
Yup,
sudah dua minggu ini saya dan beberapa teman di NGO Lokal di Bengkulu
yaitu Ulayat, mencoba menggali dan mendokumentasikan perkembangan upaya
penyelamatan DAS Air Bengkulu.
DAS
Air Bengkulu adalah salah satu DAS (Daerah Aliran Sungai) yang terdapat
di Provinsi Bengkulu. DAS yang memiliki luas areal sekitar 51.500 ha
sampai saat ini banyak sekali dimanfaatkan oleh masyarakat Bengkulu
dari hulu sungai hingga hilir atau muara sungai. Namun sangat
disayangkan, banyaknya orang yang masih ketergantungan dengan aliran
sungai ini tidak diikuti dengan banyaknya orang yang sadar untuk
menjaga keberadaan dan kelestarian air yang ada di sungai tersebut.
Ada
tiga sub-DAS yang mengalir ke DAS Air Bengkulu, yaitu Sub-DAS Susup
seluas 9.890 ha, Sub-DAS Rindu Hati 19.207 ha dan Sub-DAS Air Bengkulu
Hilir seluas 22.402 ha.
Seminggu
yang lalu saya sempat mencoba menyusuri keberadaan DAS Air Bengkulu ini
dari hulu hingga hilir. Salah satu hulu DAS Air Bengkulu yang berada di
sebuah desa kecil yang agak menjorok kedalam yang terdapat di Kecamatan
Taba Penanjung, Bengkulu Tengah (Beberapa bulan yang lalu masih
tergabung didalam Kabupaten Bengkulu Utara) yaitu Desa Rindu Hati. Nama
desa yang sangat gampang diingat.
Di
desa ini saya bisa menikmati jernihnya air sungai yang mengalir dengan
tenang. Seakan air ini sangat senang berada di desa tersebut. Pagi yang
cerah saat itu. Suara burung yang ribut membuat suasana pagi ini serasa
lengkap. Masyarakat desa sudah mulai satu persatu berangkat ke ladang
dan ke sawah yang berada tak jauh dari desa. Menyebrangi sungai yang
ada dibelakang desa. Berjalan kaki tanpa alas kaki mengikuti jalan
setapak yang berada disepanjang sungai. Terlihat sekali mereka hidup
sangat harmonis dengan air sungai yang ada disana.
Di
Desa Rindu Hati yang mayoritas penduduknya adalah Suku Rejang ini
terdapat 6 anak sungai dan mungkin puluhan atau ratusan mata air.
Anak-anak sungai yang ada ini akhir menyatu ke sungai besar yang ada di
hulu kampung, yaitu Sungai Bengkulu.
Konon
katanya di Desa Rindu Hati ini adalah keturunan para raja dari Raja
Sungai Serut. Awal dari semua ini karena Putri Dayang Perindu melarikan
diri dari Muara Bengkulu ke Hulu Sungai (yang berada di Desa Rindu Hati
saat ini). Sang Putri melarikan diri karena tidak mau dijodohkan dengan
para raja yang berasal dari Aceh. Setelah melarikan diri, sang kakak
dan beberapa orang kerajaan menyusul keberadaan putri ke hulu sungai.
Sebelum menyusul sang putri, sang putri sempat memberikan pesan yaitu
“jika ingin menyusulnya, bawalah satu ekor ayam dan satu ekor burung
terkukur. Jika ayam dan burung tersebut berbunyi, berhentilah disitu
dan buatlah desa. Saya akan tinggal disitu”. Ayam dan burung tersebut
berbunyi ketika mereka sampai dilokasi Desa Rindu Hati sekarang.
Disitulah mereka membuat desa. Dan Itulah awal mula Desa Rindu Hati.
Berada
didesa Rindu Hati memang sangat menyenangkan. Selain suasana kampung
yang masih asli juga terdapat sawah yang menghijau dengan dilatar
belakangi oleh bukit-bukit. Desa ini memang berada di lembah didataran
tinggi Bengkulu.
Selama
dua malam berada di Desa Rindu Hati membuat saya sedikit paham dan
mengetahui permasalahan apa saja yang terjadi di desa ini mengenai
upaya untuk penyelamatan hulu sungai. Pertama, sulitnya
mengotrol masyarakat pendatang yang berada dihulu untuk tidak merusak
keberadaan hutan disepadan sungai dan dihulu. Kedua, pendapatan
masyarakat yang hanya mengenal sistem pertanian yang terkadang kurang
paham dengan masalah ekologis yang akan ditimbulkan jika membuka sebuah
chatment area atau daerah tangkapan air. Tiga, tidak adanya
peranan pemerintah untuk mengajak dan mengatur pola perkebunan
masyarakat serta mengajak untuk peduli terhadap pentingnya kawasan hulu
sungai.
Kondisi
hulu sungai sangat berbeda dengan kondisi di hilir. Setelah dari hulu
saya mencoba mengikuti aliran sungai ini sampai ke hilir, yaitu muara
didekat lokasi pantai panjang. Setelah keluar dari Desa Rindu Hati dan
di Pasar Taba Penanjung, air sungai ini masih cukup bersih. Tapi
kondisi air sangat berbeda setelah berada di sebuah desa, klo tidak
salah Desa Kancing. Warna air sudah berwarna cokelat dan butek. Sampai
sekarang saya tidak tahu apa yang menyebabkan kondisi air ini keruh.
Apakah benar karena ulah beberapa pertambangan batu bara yang ada di
Taba Penanjung, limbah beberapa pabrik karet, atau karena limbah rumah
tangga yang berada disepanjang sungai.
Yang
membuat saya cukup prihatin adalah, air sungai yang butek ini adalah
sumber air yang diambil oleh PDAM Bengkulu untuk dialirkan kepada
konsumen sebagai sumber air bersih bagi warga kota Bengkulu. Sekitar
30% penduduk Kota Bengkulu menggunakan sumber air yaitu air PDAM.
Dulunya mungkin air ini masih jernih dan bersih, itu mangkanya sumber
air diambil dari sini. Belanda membangun sumber air disitu sekitar
tahun 1928. PDAM hanya mewarisi dan melanjutkan usaha untuk penyaluran
sumber air bersih.
Banyaknya
pencemaran yang terjadi disepanjang aliran sungai ini membuat kondisi
air PDAM saat ini sebenarnya tidak layak untuk dikonsumsi. Hal inilah
yang membuat PDAM membutuhkan biaya produksi yang lebih untuk
membersihkan dan menetralkan air yang mereka ambil dari Sungai Air
Bengkulu. Inipun kualitas airnya masih belum bagus. Biaya produksi
permeter kubiknya dikabarkan sudah jauh diatas biaya jual. PDAM yang
seharusnya bisa menjadi salah satu pendapatan daerah sekarang justru
tidak berarti apa-apa bagi Pemerintah Provinsi Bengkulu. Sungguh ironis.
Aliran
sungai Air Bengkulu sebenarnya tidak terlalu panjang dan peluang untuk
melakukan penyelamatan keberadaan sungai ini sangat besar. Hanya
dibutuhkan sebuah niat saja. Niat untuk mau bersama-sama menyelamatkan
keberadaan DAS Air Bengkulu. Ulayat tidak akan mampu melakukannya
sendiri. PDAM tidak akan mampu melakukannya sendiri. Apalagi Bapedal
dan dinas-dinas yang ada di provinsi Bengkulu (Pemerintah Bengkulu Kota
dan Kabupaten), tidak akan ada harapan mengharapkan merekamelakukan itu.
Sekarang
limbah pabrik, limbah pertambangan dan limbah lainnya sudah semakin
banyak yang masuk kedalam aliran sungai. Air sungai semakin lama
semakin tercemar. Konsumen PDAM semakin gundah dan resah akan kondisi
air yang mereka terima.
Saya tidak tahu kejadian seperti apa yang bisa membuat aparat Pemerintah Bengkulu ini bisa ngeh
dan sadar betapa pentingnya sumber air baku bagi masyarakatnya.
Mayarakat Bengkulu ini bisa sadar pentinganya air bagi kehidupan.
Mungkin perlu ada kejadian dimana masyarakatnya terserang berbagai
penyakit diare dan penyakit lainnya karena kekurangan sumber air bersih
dan dilanda banjir atau kekeringan yang sangat hebat. Atau nunggu
Gubernur dan Wakil Gubernurnya serta pejabat-pejabat itu sakit diare
dulu. Mungkin ngga sih??
Padahal semua tahu mencegah itu lebih baik daripada mengobati. Mengapa kita harus ada shock terapy dulu baru sadar ya?. Musti ada bencana dulu baru ada tindakan.
Lets do Now!!!. Lakukanlah sekarang sebelum terlambat.
Masyarakat
Desa Rindu Hati sebenarnya hampir sama dengan masyarakat desa dibanyak
tempat di nusantara ini. Jika ada niat baik dari kita untuk
memberitahukan peranan penting dalam upaya penyelamatan lingkungan dan
adanya peranan aktif dan dukungan dari pemerintah lokal tentu akan
membuat masyarakat tersebut senang dan tentu akan membuat usaha untuk
menyelamatkan lingkungan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat
setempat akan berjalan baik. Perlu kerjama antara hulu dan hilir DAS
Air Bengkulu.
Inilah
yang menjadi salah satu permasalahan utama betapa sulitnya upaya untuk
penyelamatan lingkungan dinegara kita tercinta ini. Tidak adanya
kerjasama!!. Semua berjalan sendiri. Sibuk dengan kerjaan
masing-masing. Padahal pengetahuan dan kemampuan disetiap orang,
disetiap lembaga dan disetiap instansi adalah terbatas. Semua masih
sibuk dengan egonya masing-masing. Termasuk kita.
Posted at Saturday, October 25, 2008 by
berang
 |  |  |
Berang March 19, 2009 10:29 AM PDT
Tun jang,
Fotonya ada di komputerku, aku munsti nyari dulu dokumennya. Untuk komunikasi berikutnya silahkan ke alamat blogspot aja www.berangberangblog.blogspot.com.
Aku link ya alamat weblog mu |
 |

 |  |  |
tun jang February 20, 2009 04:19 PM PST
ada photo desa nya engggak bro, dan kerusakaan yang terjadi di desa rindu hati, aku bantu publish di blog deh, buat kelestarian lingkungan tanah rejang.
salam |
 |

 |  |  |
Berang January 29, 2009 05:26 PM PST
Thanks Vin atas koreksinyo... |
 |

 |  |  |
vina January 29, 2009 03:00 PM PST
ambo baco lagi tulisan Das air bkl kk, kayaknyo ndak ralat lah...hilirnyo das air bengkulu tuh bukan di pantai panjang tp di pantai muara bangkahulu..
ambo lupo blog kk kmren, baru kebaco lg qn...sukses terus nulisnyo.... |
 |

 |  |  |
Berang December 12, 2008 09:31 AM PST
Mereka sih pada pengen nanem tanaman karet. Karena selain menjadi fungsi lindung dan menjaga struktur tanah biar ngga erosi, bisa mendapatkan nilai tambah untuk perekonomian mereka dengan menyadap getahnya. Itu kata beberapa yang ada disana... |
 |

 |  |  |
Moes Jum December 10, 2008 07:13 PM PST
jadi warga desa Rindu Hati akhirnya bersepakat mau ngapain terhadap sungai mereka? |
 |