|
|
 |
 |
|
Thursday, February 05, 2009
Posted at Thursday, February 05, 2009 by berang
Permalink
Tuesday, January 27, 2009
 Cerita berikut ini adalah sebuah cerita seorang petani sawit yang saya temui beberapa bulan yang lalu (Desember 2008) yang tinggal di perbatasan Pusat Latihan Gajah (PLG), Seblat, Bengkulu Utara. Saya menginap di pondok beliau selama lima hari. Disebuah podok yang sangat sederhana yang terbuat dari papan-papan bekas dan bambu. Berdirinya pondok inipun sudah tidak lurus lagi alias hampir roboh karena dimakan usia. Saya mengunjungi keluarga petani sawit ini karena berdasarkan informasi yang saya dapat, hanya beliau inilah yang sampai sekarang masih bertahan di jalan koridor yang membelah kawasan PLG Seblat, Bengkulu Utara. Sebuah jalan yang dibuat oleh perusahaan kelapa sawit (PT Alno) pada tahun 2004 dengan MoU antara PT Alno dan BKSDA Bengkulu yang juga mendapat persetujuan dari pejabat di Manggala Wanabakti. Seperti yang sudah pernah saya ceritakan di posting sebelumnya tentang status PLG Seblat, yaitu Hutan Produksi dengan fungsi khusus yang secara prinsip pengelolaannya dibawah Dinas Kehutanan. BKSDA Bengkulu sebenarnya tidak punya wewenang dalam pembuatan dan persetujuan MoU yang telah dibuat. Beberapa bulan sebelum saya datang, disepanjang jalan ini ramai sekali masyarakat yang masuk untuk merambah dan membuat ladang di kawasan PLG Seblat. Sebagian tanaman sawit yang mereka tanam sudah membuahkan hasil. Namun, tak berapa lama setelah itu para perambah ini meninggalkan ladang mereka karena adanya operasi penangkapan oleh Polda Bengkulu terhadap beberapa perambah yang diduga memperjualbelikan tanah kawasan. Hampir seluruh tanaman sawit dan tanaman lainnya yang ada disepanjang jalan poros inipun sudah habis dimakan dan dinjak-injak gajah liar. Nah, dari latar belakang beberapa permasalahan yang terjadi di PLG Seblat ini. Saya mencoba mencari informasi kenapa masyarakat tersebut merambah dan membuka lahan di kawasan PLG Seblat dan mengapa mereka cenderung ingin menanam kelapa sawit di ladang mereka. Informasi ini kami coba gali untuk melanjutkan sebuah film dokumenter yang pernah kami buat mengenai ancaman satwa Gajah Sumatera yang terdapat di Bengkulu. Dari cerita yang saya buat ini silahkan menilai sendiri sebenarnya siapa yang salah. Masyarakat (perambah), Dinas Kehutanan, BKSDA Bengkulu, Pemerintah Daerah, Gajah, atau mungkin Tuhan yang salah??!! Lahmudin. Itulah namanya. Umur beliau sudah 65 tahun. Tinggal disebuah pondok bersama seorang istrinya Jarinah (50 th). Disaat pertama kali saya datang menemui mereka, mereka merasa takut dan bertanya-tanya. Khawatir mereka akan diusir dari ladang mereka yang sudah mereka tempati dari beberapa tahun yang lalu. Mereka menduga saya dari petugas kehutanan. Setelah beberapa hari tinggal bersama mereka, Pak Lahmudin baru mau bercerita secara terbuka dan tidak takut lagi terhadap saya. Beliau menceritakan bagaimana kehidupan kerluarganya, latar belakang mereka membuat ladang disini, ketakutan mereka dan harapan mereka terhadap ladang yang sudah mereka buat selama ini. Pada tahun 2000 karena diajak oleh beberapa teman dan keluarga yang ada di kampung (Dusun Pulau) untuk membuat ladang dihutan, akhirnya Pak Lahmudin ikut membuat ladang. Dulu orang-orang kampung ini membuat ladang jauh dari kampung yaitu disekitar areal PT Maju. Mereka menanam tanaman kopi di ladang mereka. Karena sudah ada akses jalan didaerah PLG Seblat, maka beberapa orang kampung inipun bergerak menuju kawasan PLG Seblat untuk membuat ladang disepanjang jalan poros PT Alno. Sebuah jalan yang memotong kawasan PLG Seblat untuk pengangkutan hasil kelapa sawit ke pabrik. Konon disepanjang jalan ini masih berhutan dan semak belukar yang tidak ada penghuninya. Entah karena mereka tidak tahu kawasan ini adalah kawasan PLG Seblat atau pemerintah daerah serta petugas kehutanan tidak memberi tahu mengenai status kawasan, akhirnya mereka menebang, membersihkan lahan dan menanam disana. Luas lahan yang digarap oleh Pak Lahmudin dan istrinya sekitar 2,5 ha. Beberapa areal sudah ditanam kelapa sawit, dan sebagiannya lagi ditanam tanaman muda, seperti sayur-sayuran dan buah-buahan. Seperti para petani lainnya yang ada di Bengkulu. Pada awal membuka lahan, setelah dibersihkan dan dibakar. Mereka akan menugal padi (menanam padi darat). Humus tanah setelah pembakaran sangat baik untuk tanaman padi. Setelah panen padi barulah mereka menanam tanaman keras. Saya sempat iseng menanyakan kepada Pak Lahmudin. "Mengapa bapak menanam sawit? Apakah tidak ada tanaman lain selain sawit?". "Pada saat saya membuka ladang ini, perkebunan Alno baru buka. Mereka banyak sekali menanam kelapa sawit. Ketika saya duduk di depan pondok saya, saya melihat aktivitas mereka. Lalu lalang membawa bibit-bibit kelapa sawit. Dari sana saya jadi berfikir. Nanti ketika mereka memanen hasil tanaman sawitnya, saya akan menjadi penonton saja kalo saya tidak ikut menanam sawit. Saya juga harus menanam sawit." Jawab beliau terhadap pertanyaan saya. "Dulu saya tidak tahu berapa harga buah sawit perkilonya. Yang penting saya ikut menanam saja. Pertama kali panen harganya perkilo klo tidak salah seratus rupiah. Terus naik menjadi 200, naik lagi 300, tahun berikutnya naik 400 rupiah. Baru tahun 2008 ini saya bisa menikmati harganya per kilo sampai 1.400 rupiah" lajutnya. Disaat melihat aktivitas sehari-hari yang dilakukan Pak Lahmudin, saya menjadi tahu dan bisa merasakan betapa berat menjalani kehidupan disini. Hanya berdua ditempat yang sepi. Disaat malam tiba, daerah ini sangat gelap karena tidak ada penerangan dari lampu-lumpu listrik. Tetanggapun sudah tidak ada karena semua teman-temannya balik ke kampung pasca operasi penangkapan para perambah. Banyak satwa-satwa liar yang ada didalam kawasan, termasuk mamalia terbesar di Indonesia yaitu satwa gajah. Pernah ditengah malam sekitar jam 10 malam terdengar suara teriakan gajah liar. Nyaring dan membuat hati kecut. Posisinya tidak jauh dari pondok Pak Lahmudin. Dengan sigap Pak Lahmudin bangun mengambil senter dan membawa kentongan lalu berjalan menuju ke ladang sawitnya. Saya yang saat itu penasaran bagaimana caranya mengusir gajah malam-malam, akhirnya ikut beliau. Malam itu sangat-sangat gelap. Tidak ada cahaya apapun ditengah-tengah ladang sawit kecuali cahaya senter kita berdua. Saya berfikir didalam hati, bagaimana caranya mengusir gajah malam-malam gelap gulita begini yang klo mereka berkelompok sangat banyak jumlahnya. Tubuh gajah sangat besar. Klo tiba-tiba ada dibelakang kita dan mereka menubruk atau menginjak kita?. Wassalam sudah. "Gila ini perjuangannya membuat ladang disini. Udah sepi, banyak gajah liar, gelap pula" gumamku didalam hati. Malam itu Pak Lahmudin memukul-mukul kentongan dan berteriak untuk mengusir gajah agar tidak mendekati ladangnya. Kami berdiri diatas sebuah punggungan di ladang tersebut. Saya sempat kaget dan merinding ketika berjalan menuju punggungan, ada seekor musang yang cukup besar melompat didepan saya. Saya langsung mengarahkan cahaya senter kearah musang tersebut dan akhirnya bisa bernafas lega. Untung musang yang melompat didepan. Klo seandainya harimau sumatera yang datang? Mungkin saya bisa langsung pingsang ditempat. "Klo gajah ini berkelompok saya masih bisa mengusirnya, karena mereka bersuara. Tapi klo dia datang sendiri, habis sudah tanaman sawit saya. Karena dia datangnya diam dan tidak ada suara" ucapnya kepada saya ditengah malam itu. Saya merasa prihatin sekali dengan beliau. Dimana umur beliau yang sudah tua ini seharusnya sudah bisa duduk santai dirumah, menggendong cucu yang manis dan lucu serta menikmati hari-hari tuanya. Bukan di tengah-tengah ladang sawit yang gelap dan penuh dengan resiko.
WILAYAH ABU-ABU Mungkin inilah yang disebut dengan wilayah abu-abu. Sebuah lahan atau kawasan yang tidak jelas statusnya. Banyak informasi yang tidak jelas yang diterima oleh Pak Lahmudin dan beberapa masyarakat kampung sekitar mengenai status kawasan yang mereka tempati. Pihak PT Alno mengklaim lahan tersebut adalah lahan perkebunan milik mereka. Sementara pihak PLG sendiri mengklaim lahan tersebut adalah kawasan PLG Seblat. Lahan yang ditempati Pak Lahmudin dan beberapa orang disana posisinya berada di antara Perkebunan Alno dan Kawasan PLG Seblat. Dampak yang jelas terjadi dari ketidakjelasan itu adalah perambahan, jual beli tanah, keributan dan beberapa masyarakat yang dirugikan. Mungkin juga pemerintah daerah yang dirugikan karena harus mengeluarkan anggaran untuk menyelesaikan konflik yang terjadi disana. Kenapa bisa tidak jelas statusnya? Sepulang dari lapangan saya mencari tahu apa penyebabnya. Saya menemui beberapa orang di Bengkulu dan bertanya mengenai sejarah lahan tersebut. Dari jawaban yang didapat, ada beberapa informasi mengatakan bahwa wilayah itu memang sengaja dibuat samar-samar. Dulu saat dilakukan pengukuran oleh klo tidak salah Dinas Kimpraswil, ada beberapa oknum yang sengaja membuat wilayah itu menjadi abu-abu atau tidak masuk dalam tata batas. Kemungkinan oknum tersebut ingin mendapatkan lahan tersebut untuk kepentingan pribadi. Ini sebenarnya yang harus dicek dan ditelusuri kebenarnya. Dicari solusi yang terbaik untuk menyelesaikan masalah yang berlarut-larut ini. Bagi Pak Lahmudin lahan itu adalah harta satu-satunya yang ia miliki. Beberapa lahan yang ia miliki didekat kampunya sudah ia berikan kepada anak-anaknya yang sudah berkeluarga. Walau bagaimanapun beliau akan tetap bertahan karena ditempat inilah beliau bisa bertahan hidup dihari tuanya. Besar sekali harapannya terhadap hasil sawit yang ia tanam beberapa tahun yang lalu. Terlebih lagi ketika ditahun 2008 harga tandan sawit per kilo-nya melambung tinggi. Niat untuk menjalankan rukun islam yang kelimapun yaitu naik haji, seakan bisa diwujudkan. Namun, mejelang akhir tahun 2008 harapan itu seakan sirna. Krisis global yang menimpa hampir diseluruh negara didunia ini juga berdampak buruk terhadap seluruh petani sawit yang ada di pelosok-pelosok negeri. Harga sawit terjun bebas seolah tak peduli dengan jeritan para petani. Mereka yang pada tahun itu bermimpi menjadi kaya dan sudah mengkonversi seluruh lahan yang mereka miliki menjadi kebun sawit, hidup seperti tidak punya harapan. Lahan-lahan produktif sudah terlanjur ditanami tanaman kelapa sawit. Bahkan sawah-sawah yang selalu menghasilkan beras beratus-ratus kilo setiap tahunnya diganti dengan tanaman kelapa sawit. Sama dengan halnya Pak Lahmudin. Kecewa teramat sangat dengan turunnya harga tandan sawit. Ketidakjelasan status lahan. Harga kelapa sawit yang yang tidak menentu, membuat Pak Lahmudin terkadang termenung kosong memikirkan bagaimana harus menghabisi hari-hari tuanya. "Klo hama gajah, walaupun malam, siang, masih bisa saya menghadapinya. Tapi klo hama PLG (petugas PLG, Polhut-red) yang datang, tidak bisa saya mengatasinya. Itulah hama yang paling sulit diatasi". Saya akan pergi dari sini jika jalan ini ditutup. Pemerintah atau PLG harus adil. Jangan hanya perusahaan saja yang boleh mengakses jalan ini, sementara kita rakyat kecil di usir" keluh beliau kepada saya disaat saya mewawancarainya.
Posted at Tuesday, January 27, 2009 by berang
Permalink
Saturday, October 25, 2008
The Problems is Simple. Kerjasama.
Judul diatas merupakan salah satu kesimpulan saya ketika mencoba mewawancarai beberapa pihak
yang berhubungan dengan upaya penyelamatan DAS Air Bengkulu. Baik NGO,
Pejabat Kota/Kepala Dinas dan Masyarakat yang berada di hulu dan hilir
DAS Air Bengkulu.
Yup,
sudah dua minggu ini saya dan beberapa teman di NGO Lokal di Bengkulu
yaitu Ulayat, mencoba menggali dan mendokumentasikan perkembangan upaya
penyelamatan DAS Air Bengkulu.
DAS
Air Bengkulu adalah salah satu DAS (Daerah Aliran Sungai) yang terdapat
di Provinsi Bengkulu. DAS yang memiliki luas areal sekitar 51.500 ha
sampai saat ini banyak sekali dimanfaatkan oleh masyarakat Bengkulu
dari hulu sungai hingga hilir atau muara sungai. Namun sangat
disayangkan, banyaknya orang yang masih ketergantungan dengan aliran
sungai ini tidak diikuti dengan banyaknya orang yang sadar untuk
menjaga keberadaan dan kelestarian air yang ada di sungai tersebut.
Ada
tiga sub-DAS yang mengalir ke DAS Air Bengkulu, yaitu Sub-DAS Susup
seluas 9.890 ha, Sub-DAS Rindu Hati 19.207 ha dan Sub-DAS Air Bengkulu
Hilir seluas 22.402 ha.
Seminggu
yang lalu saya sempat mencoba menyusuri keberadaan DAS Air Bengkulu ini
dari hulu hingga hilir. Salah satu hulu DAS Air Bengkulu yang berada di
sebuah desa kecil yang agak menjorok kedalam yang terdapat di Kecamatan
Taba Penanjung, Bengkulu Tengah (Beberapa bulan yang lalu masih
tergabung didalam Kabupaten Bengkulu Utara) yaitu Desa Rindu Hati. Nama
desa yang sangat gampang diingat.
Di
desa ini saya bisa menikmati jernihnya air sungai yang mengalir dengan
tenang. Seakan air ini sangat senang berada di desa tersebut. Pagi yang
cerah saat itu. Suara burung yang ribut membuat suasana pagi ini serasa
lengkap. Masyarakat desa sudah mulai satu persatu berangkat ke ladang
dan ke sawah yang berada tak jauh dari desa. Menyebrangi sungai yang
ada dibelakang desa. Berjalan kaki tanpa alas kaki mengikuti jalan
setapak yang berada disepanjang sungai. Terlihat sekali mereka hidup
sangat harmonis dengan air sungai yang ada disana.
Di
Desa Rindu Hati yang mayoritas penduduknya adalah Suku Rejang ini
terdapat 6 anak sungai dan mungkin puluhan atau ratusan mata air.
Anak-anak sungai yang ada ini akhir menyatu ke sungai besar yang ada di
hulu kampung, yaitu Sungai Bengkulu.
Konon
katanya di Desa Rindu Hati ini adalah keturunan para raja dari Raja
Sungai Serut. Awal dari semua ini karena Putri Dayang Perindu melarikan
diri dari Muara Bengkulu ke Hulu Sungai (yang berada di Desa Rindu Hati
saat ini). Sang Putri melarikan diri karena tidak mau dijodohkan dengan
para raja yang berasal dari Aceh. Setelah melarikan diri, sang kakak
dan beberapa orang kerajaan menyusul keberadaan putri ke hulu sungai.
Sebelum menyusul sang putri, sang putri sempat memberikan pesan yaitu
“jika ingin menyusulnya, bawalah satu ekor ayam dan satu ekor burung
terkukur. Jika ayam dan burung tersebut berbunyi, berhentilah disitu
dan buatlah desa. Saya akan tinggal disitu”. Ayam dan burung tersebut
berbunyi ketika mereka sampai dilokasi Desa Rindu Hati sekarang.
Disitulah mereka membuat desa. Dan Itulah awal mula Desa Rindu Hati.
Berada
didesa Rindu Hati memang sangat menyenangkan. Selain suasana kampung
yang masih asli juga terdapat sawah yang menghijau dengan dilatar
belakangi oleh bukit-bukit. Desa ini memang berada di lembah didataran
tinggi Bengkulu.
Selama
dua malam berada di Desa Rindu Hati membuat saya sedikit paham dan
mengetahui permasalahan apa saja yang terjadi di desa ini mengenai
upaya untuk penyelamatan hulu sungai. Pertama, sulitnya
mengotrol masyarakat pendatang yang berada dihulu untuk tidak merusak
keberadaan hutan disepadan sungai dan dihulu. Kedua, pendapatan
masyarakat yang hanya mengenal sistem pertanian yang terkadang kurang
paham dengan masalah ekologis yang akan ditimbulkan jika membuka sebuah
chatment area atau daerah tangkapan air. Tiga, tidak adanya
peranan pemerintah untuk mengajak dan mengatur pola perkebunan
masyarakat serta mengajak untuk peduli terhadap pentingnya kawasan hulu
sungai.
Kondisi
hulu sungai sangat berbeda dengan kondisi di hilir. Setelah dari hulu
saya mencoba mengikuti aliran sungai ini sampai ke hilir, yaitu muara
didekat lokasi pantai panjang. Setelah keluar dari Desa Rindu Hati dan
di Pasar Taba Penanjung, air sungai ini masih cukup bersih. Tapi
kondisi air sangat berbeda setelah berada di sebuah desa, klo tidak
salah Desa Kancing. Warna air sudah berwarna cokelat dan butek. Sampai
sekarang saya tidak tahu apa yang menyebabkan kondisi air ini keruh.
Apakah benar karena ulah beberapa pertambangan batu bara yang ada di
Taba Penanjung, limbah beberapa pabrik karet, atau karena limbah rumah
tangga yang berada disepanjang sungai.
Yang
membuat saya cukup prihatin adalah, air sungai yang butek ini adalah
sumber air yang diambil oleh PDAM Bengkulu untuk dialirkan kepada
konsumen sebagai sumber air bersih bagi warga kota Bengkulu. Sekitar
30% penduduk Kota Bengkulu menggunakan sumber air yaitu air PDAM.
Dulunya mungkin air ini masih jernih dan bersih, itu mangkanya sumber
air diambil dari sini. Belanda membangun sumber air disitu sekitar
tahun 1928. PDAM hanya mewarisi dan melanjutkan usaha untuk penyaluran
sumber air bersih.
Banyaknya
pencemaran yang terjadi disepanjang aliran sungai ini membuat kondisi
air PDAM saat ini sebenarnya tidak layak untuk dikonsumsi. Hal inilah
yang membuat PDAM membutuhkan biaya produksi yang lebih untuk
membersihkan dan menetralkan air yang mereka ambil dari Sungai Air
Bengkulu. Inipun kualitas airnya masih belum bagus. Biaya produksi
permeter kubiknya dikabarkan sudah jauh diatas biaya jual. PDAM yang
seharusnya bisa menjadi salah satu pendapatan daerah sekarang justru
tidak berarti apa-apa bagi Pemerintah Provinsi Bengkulu. Sungguh ironis.
Aliran
sungai Air Bengkulu sebenarnya tidak terlalu panjang dan peluang untuk
melakukan penyelamatan keberadaan sungai ini sangat besar. Hanya
dibutuhkan sebuah niat saja. Niat untuk mau bersama-sama menyelamatkan
keberadaan DAS Air Bengkulu. Ulayat tidak akan mampu melakukannya
sendiri. PDAM tidak akan mampu melakukannya sendiri. Apalagi Bapedal
dan dinas-dinas yang ada di provinsi Bengkulu (Pemerintah Bengkulu Kota
dan Kabupaten), tidak akan ada harapan mengharapkan merekamelakukan itu.
Sekarang
limbah pabrik, limbah pertambangan dan limbah lainnya sudah semakin
banyak yang masuk kedalam aliran sungai. Air sungai semakin lama
semakin tercemar. Konsumen PDAM semakin gundah dan resah akan kondisi
air yang mereka terima.
Saya tidak tahu kejadian seperti apa yang bisa membuat aparat Pemerintah Bengkulu ini bisa ngeh
dan sadar betapa pentingnya sumber air baku bagi masyarakatnya.
Mayarakat Bengkulu ini bisa sadar pentinganya air bagi kehidupan.
Mungkin perlu ada kejadian dimana masyarakatnya terserang berbagai
penyakit diare dan penyakit lainnya karena kekurangan sumber air bersih
dan dilanda banjir atau kekeringan yang sangat hebat. Atau nunggu
Gubernur dan Wakil Gubernurnya serta pejabat-pejabat itu sakit diare
dulu. Mungkin ngga sih??
Padahal semua tahu mencegah itu lebih baik daripada mengobati. Mengapa kita harus ada shock terapy dulu baru sadar ya?. Musti ada bencana dulu baru ada tindakan.
Lets do Now!!!. Lakukanlah sekarang sebelum terlambat.
Masyarakat
Desa Rindu Hati sebenarnya hampir sama dengan masyarakat desa dibanyak
tempat di nusantara ini. Jika ada niat baik dari kita untuk
memberitahukan peranan penting dalam upaya penyelamatan lingkungan dan
adanya peranan aktif dan dukungan dari pemerintah lokal tentu akan
membuat masyarakat tersebut senang dan tentu akan membuat usaha untuk
menyelamatkan lingkungan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat
setempat akan berjalan baik. Perlu kerjama antara hulu dan hilir DAS
Air Bengkulu.
Inilah
yang menjadi salah satu permasalahan utama betapa sulitnya upaya untuk
penyelamatan lingkungan dinegara kita tercinta ini. Tidak adanya
kerjasama!!. Semua berjalan sendiri. Sibuk dengan kerjaan
masing-masing. Padahal pengetahuan dan kemampuan disetiap orang,
disetiap lembaga dan disetiap instansi adalah terbatas. Semua masih
sibuk dengan egonya masing-masing. Termasuk kita.
Posted at Saturday, October 25, 2008 by berang
Permalink
Tuesday, October 14, 2008
Bersepeda di Pantai Panjang. Segar dan Sehat

Sebenarnya niat untuk bisa bersepeda di
pantai panjang sudah lama sekali terpendam dihati. Beberapa tahun yang
lalu saya sempat mengutarakan niat saya kepada seorang teman. “Wah
seandainya saya punya sepeda disini, pasti enak sekali bersepeda di
pantai panjang ini” uangkap saya saat itu ketika melewati pantai
panjang dikala saya pulang ke Bengkulu.
Niat untuk bersepeda saya sempat utarakan
lagi kepada teman-teman Ulayat (sebuah NGO di Kota Bengkulu). Salah
orang mendengarkan niat saya adalah Bang Dikson Aritonang. Seorang
bapak yang saat ini sangat bahagia sekali karena anak perempuan yang
ke-tiga-nya baru saja lahir. Karena mendengar niat saya yang kuat
sekali untuk bersepeda di pantai panjang. Apalagi diikutsertakan
tentang sakit radang paru (Bronchoneumonia) yang saya derita
dan katanya udara pantai pada pagi hari sangat baik untuk penderita
radang paru. Maka, karena tidak tega melihat keadaan saya yang niatnya
tidak pernah tercapai, esok paginya beliau membawakan sepeda yang ada
dirumahnya untuk saya bisa bersepeda di pantai panjang. Terima kasih
banyak Bapak Dikson. Akhirnya saya bisa menikmati indahnya bersepeda
pagi-pagi di Kota Bengkulu.
Dua hari kemaren. Pagi-pagi setelah
sholat subuh saya menggoes sepeda dari kantor Ulayat (Kenanga) menuju
Persimpangan Skip – Jalan Suprapto – Kampung Bali – Bank Indonesia –
Tugu – Veteran – Pantai Panjang – Pantai Panjang Ujung (Bundaran) –
Muter balik lagi – Menyusuri pantai melewati jalan yang baru dibuat
sampai ke Tapak Padri – Bank Indonesia – Jalan Suprapto – Simpang Skip
– Kembali ke Ulayat.
Pertama sekali melewati Jalan Suprapto dan
melihat masih sepinya jalan-jalan kota. Saya tersenyum, betapa indah
dan betapa segarnya Kota Bengkulu ini pada pagi hari. Pagi ini hanya
ada beberapa orang yang lalu lalang untuk berbelanja di pasar
tradisional. Ternyata setelah saya menoleh ke kanan, terdapat sebuah
pasar yang sangat ramai orang berjualan dan pembeli yang sibuk memilih
barang-barang yang akan mereka beli.
Saya terus menggoeskan sepeda saya menuju
pantai panjang. Udara pantai panjang pada pagi hari tidak bisa saya
ungkapkan disini bagaimana rasanya. Yang jelas saya hanya kembali
tersenyum dan mengucapkan Asma Allah. Betapa agung dan betapa indahnya
ciptaan Allah SWT. Manusia seharusnya bisa menikmati kenikmatan yang
ada dimuka bumi ini. Bukan malah menghancurkannya dan membinasakannya.
Keindahan dan kenikmatan yang saya dapat bersepeda pagi itu membuat
saya tambah jatuh cinta terhadap tanah kelahiran saya ini dan saya
ingin bisa menikmati udara pagi ini sepanjang hari. Bisa bersepeda di
pantai panjang ini setiap pagi.
Sudah banyak memang perubahan yang ada di
pantai panjang. Mulai dari perubahan yang baik sampai ke perubahan yang
jelek. Perubahan yang baiknya adalah telah dibangunnya beberapa jogging
track yang menyusuri pantai dan jalan yang sudah lebar. Perubahan
jeleknya adalah, karena sudah ramai orang yang datang ke pantai panjang
dan tapak padri maka sudah hukum alam bahwa manusia akan mencari sumber
rezeki dan pendapatan seseorang di tempat keramaian. Tapi yang menjadi
masalah adalah Pemerintah Bengkulu tidak memperhatikan cara-cara orang
untuk mendapatkan sumber rezeki tersebut akan membuat pemandangan yang
indah menjadi tidak indah. Suasana yang nyaman menjadi tidak nyaman.
Moral dan norma masyarakat yang sudah lama baik menjadi tidak baik.
Pantai panjang sekarang jika saya melihat banyaknya bangunan-bangunan
untuk mereka berjualan yang terbuat dari bambu dan beratapkan terpal
disepanjang pantai panjang dan tapak padri adalah tak ubahnya
bangunan-bangunan kumuh yang ada disepanjang rel kereta api Bogor –
Jakarta.
Saya sangat menyayangkan niat pemerintah
daerah yang masih setengah-setengah dalam upaya melakukan pengembangan
tempat-tempat wisata yang ada di Bengkulu. Sangat kelihatan sekali jika
Pemerintah Kota Bengkulu belum siap benar menghadapi banyaknya
pengunjung dan masyarakat yang datang ke tempat-tempat wisata yang ada
di Bengkulu. Saya heran mengapa pemerintah tidak membangun secara
seragam tempat-tempat mereka yang ingin berjualan. Agar lebih
berestetika dan lebih beradap. Agar keindahan yang ada tidak terganggu.
Kenyamanan yang ada tidak hilang. Moral dan norma yang baik tetap
terjaga.
Pantai panjang sekarang ini, disaat malam
hari suasana pantai panjang tidak ubahnya menjadi tempat-tempat orang
yang ingin melakukan maksiat. Didukung tempat-tempat yang gelap dan
banyaknya bangunan-bangunan kumuh yang dibuat remang-remang. Saya
heran, kenapa Pemerintah Kota Bengkulu ini tidak mau memberi penerangan
yang layak dan membuat rasa aman bagi orang yang datang ke pantai
panjang yang ada di Bengkulu. Atau memang orang-orang Pemerintahan Kota
Bengkulu juga menikmati suasana yang sudah ada selama ini. Ikut
menikamti suasana mesum pada malam hari yang ada di Pantai Panjang??
Mungkin perlu dicari tahu.
Halah…. terlalu panjang dan terlalu banyak
komentar saya terhadap jeleknya pembangunan pantai pajang ini. Mungkin
karena saya sangat kecewa pantai panjang yang selama indah dan masih
alami, keadaannya sekarang menjadi begini. Tidak jelas mau dibawa
kemana pembangunannya. Konsep seperti apa yang diinginkan Pemerintah
Bengkulu.
Disaat menyusuri pantai, saya bisa menikmati
ombak yang tanpa hentinya bergoyang seolah ingin menunjukkan betapa
indah dirinya dan manusia selayaknya bisa menikmati dirinya.Setiba
di kampung nelayan, saya bisa melihat nelayan yang bergotong royong
menggiring perahu nelayan yang baru tiba dari melaut ke bibir pantai.
Bahu membahu mengangkat hasil tangkapannya. Ada beberapa nelayan yang
sedang asyik membetulkan jaring-jaring ikan yang mungkin sempat putus
ketika menangkap ikan tadi malam.
Setelah melewati kampung nelayan saya
memasuki wilayah Benteng Malborough. Sebuah benteng peninggalan Inggris
yang dibangun pada tahun 1713-1719 dibawah pimpinan Joseph Callet.
Konon katanya benteng ini adalah benteng terkuat di daerah timur
setelah Benteng St. George di Madras, India. Saya mengelilingi benteng
ini sambil menuju ke Bank Indonesia dan Jalan Suprapto. Besiap-siap
untuk kembali pulang.
Setibanya di Jalan Suprapto, beberapa toko
sudah mulai buka. Saya menghentikan laju sepeda saya disebuah toko yang
menjual roti dan kue-kue jajanan. Sambil meminum susu kotak saya duduk
tempat parkiran sambil makan roti dan melihat orang-orang yang sudah
mulai berangkat kerja. Mereka sudah berpenampilan rapi dan wangi. Ada
yang berjalan kaki, naik angkot, pakai sepeda motor, naik mobil pribadi
dan ada juga yang dengan gagahnya membawa mobil-mobil mewah yang
berplat merah. Berkacamata hitam dengan sebatang rokok ditangan serta
dentuman musik yang keras yang keluar dari mobilnya.
Betapa nikmat dan sehatnya klo saya bisa
menikmati susana pagi hari selalu seperti ini. Saya selalu ingin
bersepeda seperti ini. Dua jam bersepeda membuat badan ini segar dan
sehat. Tapi sayang sampai sekarang saya belum mampu juga untuk beli
sepeda :)
Foto diunduh disini
Posted at Tuesday, October 14, 2008 by berang
Permalink
Thursday, October 09, 2008
Because I have homework, must make short article about the Freedom Film Fest 2008 in english. So, I must translate this in english. Thanks for My Big Boss RR for the translate. And the last, Aloi have you understand my article  Maybe you can copy just about FFF.
Kuching, Serawak One week after I came back home from Kupang, East Nusatenggara province, I had been offered by my boss to fly to Kuching for attending the Documentary Film Festival in Malaysia. Actually my condition had not really fit, due to when I was in Kupang I got a cough and flu fever. Because during that time mostly of my colleagues in the office had found themselves with the deadline schedule of their work, this is the reason why I was the properly person who should go to Kuching. The day three in Kuching I was really drop and felt faint in all of my body. When I was walking alone back to my lodge from the festival venue, I felt I can't do anything I would. Three days in Kuching was very impressive for my self. This is the new experience I found it. To arrive and back from Kuching, because there's no direct flight to go to Jakarta, I must stop over in Kuala Lumpur for 3 hours. Another story that I have to tell is when I was going home to Bogor (my home town) at 23rd of September, I must directly go to the hospital and stay my days there. This is my first time experience for staying at the hospital and also gets the intravenous. Welcome… finally I should enjoy the facility of the hospital.
Freedom Film Fest 2008, Kuching Freedom Film Fest is the annual event which have aimed to screen the series of documentary films from the worldwide, including countries like Indonesia, the Philippines, America, Korea and of course Malaysia as the host. This fourth FFF on this year, have a flag for bringing the human right issue. FFF had been arranged by Komas (name of Malaysia NGO) are also opened to facilitate the film competition for the youth filmmaker. Komas conducted the selection for the appropriate stories which related with their annual theme. Three of the winners deserves the award of RM 5,000 (USD 1,400) as well as the free editing facility for their films. In addition of the three winning film presentation, FFF had screened the other film from various countries, including Voices from the Forest India, produced by Gekko Studio/Dusty Foot Production for NTFP-EP and also The Indigenous Peoples of Knasaimos, produced by Gekko Studio/Handcrafted Films. Screening had been taken place at Old Court House, started from 19-21 of September 2008 and was officially opened by Dominic Ng, the representative of Government, on his speech he mentioned " I'm really great with this opportunity, in particularly because there will be a film presentation which related with the issue of democratization in Sarawak through exposing the land right struggle movement of the indigenous from the oil palm threat". On the day-two, the festival presented the session of documentary film on the Native Land Right and Conservation. Three films: Voices from the Forest India, The Indigenous People of Knasaimos and What Rain Forest (produced by Ketapang Pictures) were on the screen. Crowded of people had been there, approximately 100 audiences were attended. Perhaps, because this is the first documentary film festival in this state, many of Sarawakian came with very enthusiastic feeling for watching it. After the screening end, it's been followed with the QA session. Not many commentary or questions for Voices and Knasaimos Film, because both of those films are telling the story of seeking the solution to keep the forest management on place. It's very different with What Rain Forest. This film had exposed the stories of the indigenous land in Sarawak, which claimed by the government as well as the oil palm companies, one of the situation which rampant in all over of Sarawak. Iban and other of indigenous communities still struggle to reseize their ancestor land that already claimed by the other parties. According to the audiences response after watching it kind of series of documentaries film, look on Malaysia and other countries, they demand that this festival should be continued by routine for the years coming. Many of documentaries film affected their audiences, through giving them the lesson learnt and experience from other regions. Such have ever been said by Lexy Rambadeta, one of Indonesia documentary filmmaker "Documentary is having power over time…. its last forever".
Posted at Thursday, October 09, 2008 by berang
Permalink
Tuesday, October 07, 2008
Setelah seminggu pulang dari Kupang, NTT saya diminta untuk datang ke kuching, Serawak, Malaysia. Untuk menghadiri sebuah festival film yang diadakan oleh sebuah NGO di Malaysia. Sebenarnya kondisi badan saya belum pulih benar dari sakit sepulang dari Kupang. Sepulang dari Kupang saya terserang flu berat dan batuk. Karena semua teman masih sibuk dengan perkerjaannya, maka akhirnya saya yang berangkat ke Kuching. Selama tiga hari disana (19-22 September 20008), hari ketiganya saya benar-benar drop dan lemas. Badan saya panas, tapi terasa dingin. Persendian dilututku terasa nyeri dan seluruh badan rasanya lemas. Berjalan kaki pulang ke penginapan dari tempat acaranya berlangsung saja rasanya saya sudah tidak sanggup lagi. Perjalanan tiga hari ke Kuching bagi saya sangat berkesan. Setelah berusaha kuat bisa pulang ke Indonesia, berhubung pesawat saya harus transit dulu di KL sekitar tiga jam. Esok harinya setelah tiba di Bogor (23/09) saya langsung masuk rumah sakit dan di Opname di rumah sakit tersebut. Inilah kali pertama saya menginap dan diinfus di rumah sakit. Selamat… Akhirnya bisa merasakan juga nikmatnya tinggal di rumah sakit.
Freedom Film Fest 2008, Kuching Freedom Film Fest adalah sebuah festival yang menayangkan film-film dokumenter dari berbagai dunia, seperti Indonesia, Phillipine, Amerika dan Korea serta dari negara Malaysia sendiri. FFF yang ke empat ini yang diadakan di tahun 2008 ini mengangkat tema mengenai Human Right. 
FFF yang diadakan oleh Komas ini juga mengadakan kompetisi bagi tiga orang pemenang yang proposal mengenai pembuatan filmnya sesuai dengan tema yang telah ditentukan dan alur ceritanya disetujui oleh Komas. Mereka memberikan Award sebesar RM 5000 atau sekitar Rp 12 juta, serta bantuan fasilitas editing dan bagi pemenang yang terpilih. Tiga orang yang terpilih dalam FFF 2008 adalah: 1) Pilihanraya Umum Malaysia ke-12: Demokerasi atau rebutan kerusi by Abror Rival, 2) Who Speaks for Me? by Justin Johari, 3) Pecah Lobang by Poh Si Teng. Selain menampilkan tiga film yang mendapatkan award, FFF juga menayangkan beberapa film lainnya dari berbagai negara. Salah satu film yang ditayangkan adalah Voices from the Forest India Produksi Gekko Studio/Dusty Foot Production/NTFP-EP serta film The Indigenous People of Knasaimos produksi Gekko Studio/Telapak/Handcrafted Films. Screening yang diadakan di Kuching, Serawak (19-21 September 2008) bertempat di Old Court House dibuka secara resmi oleh Dewan Undangan Negeri untuk Padungan, Kuching yaitu Dominic Ng. "Saya sangat senang dengan adanya FFF di Kuching. Di FFF ada salah satu film yang menceritakan tentang demokerasi dan perjuangan hak tanah masyarakat adat Serawak dari perkebunan kelapa sawit" ucap beliau disaat akan membuka acara FFF 2008. 
Pada hari kedua pemutaran film-film dokumenter session tentang Native Land Rights and Conservation. Film Voices fro the Forest India, The Indigenous People of Knasaimos dan What Rain Forest Produksi Ketapang pictures ditayangkan. Banyak orang yang datang untuk menonton film-film yang diputar. Jumlah orang yang datang hari itu dari siang sampai sore harinya sekitar 100 orang. Mungkin karena ini adalah yang pertama kalinya acara festival film-film dokumenter yang diadakan di Serawak, maka banyak orang-orang yang ada di Serawak antusias untuk datang dan menonton. Setelah pemutaran tiga film tersebut langsung diadakan sesi diskusi dan tanya jawab mengenai film yang sudah ditonton. Tidak banyak komentar dan pertanyaan untuk film Voices from the Forest India dan The Indigenous People of Knasaimos karena memang sudah cukup dimengerti mengenai sebuah solusi pengelolaan hutan yang baik dan lestari. Bagaimana sebuah konsep pengelolaan dan pemanfaatan hasil hutan yang tetap menjaga kelestarian hutan tersebut. Berbeda dengan film What Rain Forest. Film ini banyak mendapat pertanyaan dan komentar dari audiens yang hadir. Karena selain menceritakan tentang lahan masyarakat adat yang ada di Serawak yang diclaim orang pemerintah dan perusahaan untuk perkebunan sawit, juga karena kasus-kasus serupa masih mendominasi di Serawak. Banyak masyarakat dayak iban dan masyarakat adat lainnya di Serawak masih berjuang untuk mendapatkan kembali tanah-tanah mereka yang diclaim oleh perusahaan dan Pemerintah Serawak. 
Dari banyaknya orang yang datang untuk menonton dan bisa mengetahui kondisi-kondisi real mengenai sebuah permasalahan disuatu daerah baik di Malaysia atau dinegara lainnya membuat para audiens yang datang mengharapkan acara-acara festival film seperti ini bisa dilaksanakan secara rutin dan berkelanjutan. Dari film-film dokumenter tersebut banyak pembelajaran yang didapat dan pengalaman dari daerah lain yang bisa diketahui. Banyak manfaat yang bisa didapat dari sebuah film dokumenter. Seperti yang pernah disampaikan oleh Lexy Rambadeta, seorang filmaker dokumenter dari Indonesia "Documentary is having power over time…. its last forever".
Posted at Tuesday, October 07, 2008 by berang
Permalink
Wednesday, September 10, 2008
Perjalanan Ke Pulau Timor
"Kalau mau hidup sejahtera dan NTT (Nusa Tenggara Timur) selamat. Jagalah Molo" Itulah sebuah kata yang diucapkan oleh seorang mama di Pulau Timor yaitu Mama Aleta saat saya berkesempatan untuk mencoba mendokumentasikan perjuangan beliau dan Masyarakat Adat Molo dalam mempertahankan tanah adatnya dari ancaman pertambangan marmer di Molo Utara, Kabupaten Timor Tengah Selatan. Perjalanan saya ke Molo kurang lebih tiga minggu, 21 Agustus 2008 - 6 September 2008. Perjalanan ke Molo sebenarnya sangat mendadak. Rencana perjalanan saya sebenarnya adalah ke Masyarakat Talang Mamak di Riau. Tapi berhubung ada beberapa masalah teknis, maka rencana berangkat ke Riau diundur. Setelah mengetahui rencana itu diundur, akhirnya saya diminta ke Molo. Persiapan perjalanan kesana hanya dua hari. Tanya sana sini situasi dan kondisinya, beli obat-obatan dan vitamin, siapkan peralatan trus berangkat sudah. Sebenarnya sewaktu kuliah saya sudah pernah ke NTT, tapi saat itu ke Labuan Bajo dan Pulau Komodo. Setelah lihat peta dan tahu dimana lokasi tempat saya akan tinggal, baru saya ketahui ternyata Labuan Bajo dan Pulau Komodo sangat jauh dan beda pulau dengan Molo. Tiga jam perjalanan dan transit selama dua puluh menit di Surabaya saya sudah bisa melihat dari jendela pesawat pulau-pulau yang didominasi warna-wana cokelat. Inilah pemandangan yang akan kita lihat jika kita datang ke Pulau Timor, terutama pada musim-musim kering. Hampir semua rumput-rumput kering dan pepohonan kehilangan daunnya alias berguguran. Mungkin jika orang yang sudah terbiasa matanya melihat kehijauan pepohonan dan dedaunan, menikmati kesejukan dibawah pohon yang rindang serta terbiasa hidup enak, dalam hatinya akan akan bertanya "Bisakah kita hidup di pulau ini?". Sama halnya saya, ketika akan mendarat di Bandara El Tari, Kupang. "Serasa tidak yakin disini ada kehidupan" celoteh saya kepada Melly Nurmawati, seorang teman satu kerja yang berangkat bersama saya yang juga merangkap sebagai leader dilapangan. "Tapi orang timor bisa hidup tuh disana… dan beranak pinak lagi hehehe…." Mungkin itu jawaban kalian setelah membaca celotehan saya kali ya.. Sesuai pesan yang disampaikan kepada kami bahwa setelah tiba di badara akan langsung dijemput oleh seseorang maka kami pun menunggu jemputan disebuah cafe dekat pintu keluar bandara. "Tunggu saja disana ya bapak, kami baru jalan ini. Mungkin sekitar dua jam-an lagi sampai sana" suara yang keluar dari handphone saya disaat saya memastikan orang yang akan menjemput kami lewat telpon. Yahh.. itulah jemputan kami. Harus menunggu dulu dua jam. Kebetulan saya membawa sebuah buku dari Bogor, maka saya habiskan dua jam untuk membaca buku. Buku yang saya bawa adalah Buku City of Joy, Negeri Bahagia karangan Dominique Lapierre. Menceritakan sebuah Kota Calcutta di India. Kalian harus baca buku ini. Kalian akan tahu bagaimana orang India bertahan hidup dengan sumberdaya yang minim dan bertahan dengan ketermisinan yang amat sangat. Seperti salah satu komentar yang ada disampul belakang buku ini yang ditulis oleh New York Post. "Ada pahlawan di setiap senti karya ini……" "Bapak posisi dimana? saya ada di parkiran motor" sebuah sms masuk ke handphone saya. Saya langsung telpon dan menunjukkan dimana posisi kami. "Selamat sore pak. Saya Nivron. Saya diminta Ma Leta untuk jemput bapak". "Selamat sore. Saya Een dan ini Melly" saya membalas jabat tangan Pak Nivron dan memperkenalkan teman saya. "Bapak pakai apa jemput kita?" tanya saya kepada Pak Niv. "Kita bawa motor pak, satu lagi teman masih di belakang". Saya dan Melly sempat shock dan termangu beberapa detik. "Bapak jemput kita dengan perjalanan hampir tiga jam pakai motor?" Oh my God!. Bayangan saya karena sudah tau kita bawa cukup banyak barang, jadi akan dijemput dengan sebuah mobil. Dan kita bisa tidur selama perjalanan karena dari Bogor berangkat subuh ke Bandara Soekarno Hatta, Jakarta. Tapi nyatanya?? Huuhh… Karena tidak mungkin menolak jemputan yang sudah ada dan tidak mungkin untuk meminta mereka pulang sendiri tanpa jemputan sementara kita menginap dulu semalam di Kupang atau kita rental mobil saja menuju lokasi perkampungan. Maka sekitar pukul 18.30 waktu Kupang kami pun berangkat dengan menggunakan sepeda motor. Sebuah tas besar yang berisikan peralatan saya harus berada dan menempel dipunggung saya. Sementara tas pakaian diselipkan antara ujung jok depan motor. Saya berangkat bersama dengan Pak Niv dengan Motor Bebek Yamaha Vega, sementara Melly berdua dengan Pak Hedrik dengan menggunakan sepeda motor Suzuki Smash. Selama perjalanan yang malam itu angin sudah mulai berhembus kencang dan dingin, saya sudah tidak kuat menahan kantuk. Saya tidak bisa menikmati lagi perjalanan yang selalu menanjak dan memutari beberapa bukit karena diantara menahan kantuk dan menahan keseimbangan tas besar yang menempel dipungggung. Mata sudah sempat terpejam beberapa kali. Sekitar pukul 21.30 kami tiba di SoE. Ibu Kota Kabupaten TTS. Karena sudah tidak kuat lagi melanjutkan perjalanan ke Molo, yaitu kearah Gunung Mutis dan sekitar 1 jaman lagi waktu perjalanan maka setelah bertemu dengan Mama Aleta kami minta diri untuk istirahat semalam di SoE dan besok pagi dilanjutkan lagi perjalanannya. "Ya sudah, kalian menginap dulu saja di SoE. Kalian pasti sudah sangat capek sekali" ungkap Ma Leta setelah melihat wajah kami yang sudah lemas. Alhamdulilah Maleta (pangilan akrab Mama Aleta) bisa mengerti. Perjuangan Perempuan Molo Pada hari Jum'at pagi tanggal 22 Agustus kami berangkat ke Molo, tepatnya ex camp sebuah pertambangan di Desa Nousus. Dari SoE menuju Kapan dan lanjut kearah Gunung Mutis. Daerah ini ternyata suhunya sangat berbeda jauh dengan Kupang. Sangat dingin, berangin dan selalu berkabut. Diperkirakan ketinggiannya sekitar 1200 mdpl. Selama dua hari berada disana, dari pagi hari sampai sekitar jam 3 sore saya tidak bisa ngapa-ngapain. Hanya meringkuk didalam sleeping bag dan duduk baca buku didalam sebuah ruangan yang sedang diperbaiki. Suhu diluar sangat dingin, hujan dan angin berhembus sangat kencang. Beberapa orang lokal mengatakan angin kencang ini bawaan dari Australia karena keberadaan daerah ini tidak jauh dari Australia. Mereka juga bilang kalo bulan Agustus angin sudah mulai berkurang. Bulan Januari-Maret adalah bulan yang dimana anginnya sangat kencang dan bisa merobohkan beberapa rumah disini. Saya tidak bisa bayangkan sekencang apa angin pada bulan-bulan tersebut. Saat ini saja anginnya sudah sangat kencang bagi saya pribadi.  Perjuangan masyarakat adat Molo dan para mama-mama yang menolak sebuah pertambangan marmer ditanah adatnya beberapa tahun yang lalu mendapat banyak sorotan media, NGO, pemerintah dan lembaga lainnya. Karena perjuangannya itulah Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) yang kantor pusatnya berada di Jakarta, Tebtebba - Indigenous Peoples' International Cantre for Policy Research and Education dari Thailand dan Asia Indigenous Peoples Pact Foundation (AIPP) dari Filipina mengadakan sebuah training untuk para perempuan adat. Peserta training ini selain dihadiri oleh masyarakat di beberapa kampung di Molo juga dihadiri oleh beberapa perempuan adat di Nusantara. Training ini mengangkat tema 'Perempuan Adat dan Pengambilan Keputusan. Persiapan Pengumpulan Data dan Kisah Perempuan Adat tentang Penerapan CEDAW dan Dampak Industri Ekstraktif'. Dalam training ini mereka mencoba memperkuat posisi kaum perempuan dalam sebuah komunitas, pekerjaan ataupun aktivitas lainnya. CEDAW (Convention on the Elimination of All Forms Against Women) adalah sebuah perjanjian internasional dimana ada beberapa negara termasuk Indonesia yang menandatanganinya. CEDAW dibuat untuk menghapuskan kekerasan dan deskriminasi terhadap perempuan. Ada beberapa pasal yang terdapat didalam perjanjian ini yang mengatur hak-hak kaum perempuan dan harus dihormati dan dihargai. Selain mendokumentasikan kegiatan training ini. Kami juga mencoba membuat sebuah film tentang perjuangan Mama Aleta dan Komunitas Adatnya. Perjuangan mereka bisa dikatakan berhasil. Dari empat perusahaan tambang yang masuk ke wilayah mereka. Tiga perusahaan berhasil mereka usir dan mereka duduki lokasi pertambangannya. Hanya tinggal satu lagi yang sampai sekarang masih beroperasi, yaitu sebuah perusahaan yang berada di Batu Naitapan. Mendengar penjelasan dari Mama Aleta membuat saya kagum dengan perjuangan beliau. Maleta memang T.O.P dan memang bukan perempuan biasa. Seorang mama yang bernama lengkap Aleta Ba'un yang lahir pada tanggal 16 Maret 1966 di sebuah kampung yaitu Desa Lelobatan ini menerima nobel prize yaitu salah satu dari 1000 wajah perempuan perdamaian (Women's Nobel Prize for Peace) dan Penghargaan Saparinah Sadli pada Tahun 2007. Nama Aleta Ba'un sudah ada dimana-mana, media lokal, nasional maupun internasional. Beliau adalah anak seorang petani dari masyarakat adat Molo. Beberapa tahun yang lalu beliau menyadarkan dan menggerakkan masyarakatnya untuk menolak pertambangan yang akan menghancurkan kehidupan masyarakat adat yang ada di Molo. Ribuan orang baik kaum perempuan maupun laki-laki ikut turun ke lokasi pertambangan dan menuntut perusahaan tersebut ditutup. Berminggu-minggu dia dan masyarakatnya menginap di hutan dan terus berjuang sampai perusahaan tersebut berhenti beroperasi. Walaupun dalam kondisi hamil tidak mengedorkan niat Mama Aleta untuk terus bergerak dan memberi dukungan kepada masyarakatnya. Bukan hanya menduduki lokasi pertambangan saja. Mereka juga mendatangi Kantor Bupati TTS dan DPRD untuk mendesak pemerintah daerah mencabut izin operasi perusahaan tersebut. Usaha yang dilakukan selama bertahun-tahun memang bukan usaha yang sia-sia. Dari empat perusahaan yang ada masih tersisa satu yang belum berhenti. Tapi secara tegas mereka katakan, masih akan tetap berjuang untuk mengusir perusahaan tersebut. Mama Aleta adalah salah satu perempuan Indonesia yang rela mengorbankan kepentingan pribadi dan keluarganya demi keadilan, perbaikan kondisi masyarakat adatnya dan lingkungannya. Berbagai ancaman dan intimidasi terhadap dirinya dan keluarganya dalam beberapa tahun terakhir ini sering ia dapatkan. Rumah yang beberapa kali dilempari batu dan beberapa kaca pecah. Beberapa kali Mama Aleta dan suaminya mendapat ancaman akan dibunuh. Suaminya Godlif Sanam yang seorang guru di Kapan meminta Mama Aleta untuk menghentikan aktivitasnya. Tapi berkat pengertian yang diberikan oleh Mama Aleta, beliaupun mendukung perjuangan Mama Aleta dan masyarakat adatnya. Pesan Pak Godlif Sanam hanya satu, yaitu saling percaya dan ingat keluarga. Pada tahun 2006 disaat mau pulang ke SoE Mama Aleta sempat dihadang oleh preman-preman bayaran sekitar 20 orang yang memakai topeng. Saat itu Mama Aleta sempat mendapatkan beberapa kali pukulan dan tendangan oleh preman-preman tersebut. "Para preman itu juga sempat mengeluarkan golok dan menebaskannya ke kaki saya disaat saya jatuh. Tapi mungkin karena pertolongan Tuhan dan mereka buru-buru bagian tumpulnya yang mengenai kaki saya. Setelah menebas mereka lari" cerita Mama Aleta kepada kami. Karena merasa hidupnya sangat terancam, para keluarga dan sahabat mengevakuasi Mama Aleta. Selama tiga bulan Mama Aleta hidup di beberapa tempat seperti di Kupang, SoE dan akhirnya berpindah-pindah dari kampung ke kampung dibawah naungan tokoh-tokoh adat yang ada. Saat evakuasi perjuangan Mama Aleta tidak berhenti disitu. Proses evakuasi dia manfaatkan untuk konsilidasi dan mencari dukungan orang yang lebih banyak lagi. Untuk bertemu dengan suami dan anak-anaknya Mama Alete terpaksa datang sembunyi-sembunyi dan janjian ketemu disuatu tempat. Sampai dengan saat ini perjuangan Mama Aleta dan Masyarakat Adat Molo tidak pernah luntur. Mama Aleta dan masyarakatnya akan tetap berjuang jika ada perusahaan yang sementara ini berhenti beroperasi akan masuk kembali ke wilayahnya. Perjuangan untuk menutup pertambangan yang masih beroperasi di Naitapan yaitu PT Sumber Alam Marmer juga menjadi salah satu agendanya. Perjuangan kaum perempuan di Molo bukan hanya tumbuh jiwa Maleta saja, tetapi juga ada di mama-mama yang lainnya di beberapa desa di Molo Utara. Seperti Mama Ety yang berasal dari Desa Kuannoel. Seorang mama yang kalo bercerita penuh dengan ekspresi ini juga menceritakan bahwa ia dan keluarganya sempat dimusuhi oleh saudara-saudaranya yang ada di kampung karena dia menolak pertambangan yang ada di Desa Kuannoel. Dibeberapa desa memang ada beberapa orang pro dengan pertambangan, terutama mereka yang menikmati hasil dari pertambangan dan mereka yang terkena iming-imingan dari perusahaan. Sambil menangis Mama Ety menceritakan bagaimana dia sangat sedih sekali melihat perpecahan ikatan kekeluargaan yang sudah terjalin selama bertahun-tahun hanya karena sebuah perusahaan tambang. Mama Ety juga sangat sedih sekali karena seoarang tantenya yaitu Mama Marselina Lake yang juga ikut berjuang saat menduduki lokasi pertambangan meninggal dunia karena terlalu banyak menghirup debu-debu dari bor-bor yang beroperasi disaat mencoba menghentikan dan merebut bor dari tangan pekerja. Setelah sakit selama satu minggu akhirnya nyawa Mama Marselina tidak bisa diselamatkan lagi. Di Desa Tunua juga terdapat para pejuang perempuan. Diantaranya adalah Mama Omi. Wanita muda yang baru berumur 29 tahun ini dengan gigih berjuang untuk menolak pertambangan marmer yang ada di Naitapan. "Di Tunua banyak juga orang yang pro terhadap marmer. Dengan berbagai macam janji perusahaan mengambil hati masyarakat" ungkap Mama Omi. Sebelum memulai operasi di Desa Tunua, Kecamatan Molo utara, kabutapen TTS, perusahaan sempat menjanjikan pembangunan jalan aspal sepanjang 5 km, pembangunan gereja 2 buah, pembangunan gedung Sekolah Dasar 2 buah, rumah masyarakat 150 KK. Tapi sampai saat ini tidak ada yang direalisasikan padahal gunung batu yang ada di Naitapan sudah terpotong-potong dan erosi sudah melanda desa. "Banyak sumber-sumber air disini kering dan hilang walaupun belum masuk musim kering atau kemarau. Salah satu sungai yang hulunya di batu yang ditambang itu sekarang sudah tercemar dan membuat gatal-gatal" keluh Mama Omi. Batu-batu yang ada di Molo ibarat tulang bagi masyarakat Molo. Air adalah darah. Tanah adalah Daging. Hutan adalah rambut. Tidak bisa dipisahkan. Jika salah satu hilang maka kehidupan tidak akan ada. "Kami yang ada di dataran Molo, kami menganggap bumi, batu, kayu dan air itu adalah merupakan ibu yang menyusui" tegas Om Heis yaitu salah satu tokoh adat dari Desa Ojoabaki. Oleh karena itulah masyarakat Molo berjuang mati-matian mempertahankan Batu yang ada di Molo. Dulunya nenek moyang mereka juga tinggal di gua-gua yang ada dibatu tersebut dan masih ada sisa-sisa peninggalan nenek moyang mereka. Di setiap gua-gua yang ada merupakan salah satu tempat tinggal sebuah marga yang ada di Molo. Seperti yang ada di Batu Nausus, ada beberapa gua yang dimiliki oleh Kafetoran Netpalak yaitu Marga Tefui' Sembanu, Seko Ba'un, Toto Tanesif dan Nani Lasak. Jika batu-batu itu ditambang dan dihancurkan bukan hanya kehidupan mereka yang terganggu tetapi juga identitas masyarakat adat Molo akan ikut musnah. "Kami tolak pertambangan yang ada di Molo, karena inilah tempat ritus kami, tempat tinggal kami yang pertama. Istana daripada marga kami yang tidak boleh diganggu oleh siapapun!" tegas Om Heis lagi. Melihat dan mendengar cerita dari kaum perempuan yang ada di Pulau Timor ini membuat saya kembali bingung kepada Pemerintah Indonesiah ini. Rakyatnya mati-matian berjuang mempertahankan kesejahteraan alam dan manusianya, mempertahankan identitas dan budayanya. Tapi Pemerintah kita yang tercinta ini malah dengan entengnya dan menjual memberikan izin untuk dihancurkan sumber-sumber kehidupan mereka. Identitas diri mereka. Capek deh!! 
     
Posted at Wednesday, September 10, 2008 by berang
Permalink
Wednesday, July 23, 2008
Participatory Video Training for Human Rigts Based Approaches
Beberapa minggu yang lalu saya diudang untuk menjadi peserta training "Participatory Video Training for Human Rigts Based Approaches" di Kaliandra dan di Porong, Sidoarjo. Mungkin karena kita pernah membuat film tentang Lumpur Lapindo tahun lalu maka kita diundang untuk bergabung dalam training ini. Terima kasih kepada UNDP, SGP The GEF Small Grants Programme (http://www.sgp-indonesia.org), insight ( http://www.insightshare.org/), Urban Poor Linkage dan Yayasan Kaliandra (http://www.kaliandrasejati.org/).
Training yang diadakan selama sepuluh hari ini mencoba untuk share sesama peserta tarining tentang pengetahuan dan pengalaman selama membuat video-video dokumenter. Dari pengalaman-pengalaman itu ditambahkan mengenai perngertian Human Rights Base atau Hak-Hak Dasar Manusia. Walaupun saya masih belum paham sekali mengenai HAM ini tapi saya coba share kepada semuanya apa saja yang dilakukan selama training. Jika masih ada yang kurang jelas, dipersilahkan menghubungi panitianya :)
Sebenarnya jika kita sudah terbiasa membuat sebuah film dokumenter, training ini akan menjadi hal yang biasa saja. Tidak ada yang baru. Yang membedakannya adalah hanya cara membuat filmnya saja. Jika selama ini hanya kita-kita saja yang membuat sebuah film dokumenter, dalam training Partisipatory Video (PV) ini kita mengajarkan kepada komunitas-komunitas tertentu untuk membuat film tentang kehidupan mereka sendiri, atau tentang keinginan-keinginan mereka sendiri. Selama training banyak hal yang dibahas, mulai dari pengenalan tentang HAM, pengenalan kamera, pengenalan film, menemukan cerita dan interview, audiens, partisipatory analysis, practise analysis sampe shooting ke lapangan.
Disini saya akan share apa saja yang saya catat selama masa training disana. Tentu hanya point-pointnya saja. Semoga bermanfaat nantinya. Detail tentang PV ini bisa didownload di websitenya insight.
Pengenalan kamera dan cara menggunakannya Jika kita ingin mengenalkan sebuah kamera kepada masyarakat lokal atau sebuah komunitas. Kita bisa mengenalkannya lewat sebuah permainan. Permainannya adalah merekam interview. Dalam permainan ini, kita ajarkan terlebih dahulu kepada salah satu komunitas bagaimana menggunakan kamera yang kita bawa, setelah itu coba lakukan interview kepada salah satu komunitas. Setelah kita memberitahu cara menggunakan kamera dan cara interview, orang yang kita ajarkan wajib memberitahukan kepada teman-temannya secara bergiliran. Setelah semuanya tahu dan mengerti, kita tanyangkan hasil-hasil interview tersebut melalui screen atau tv. Jika masyarakat lokal yang belum pernah mengenal kamera, ini akan menjadi hal yang sangat menyenangkan.
Permainan yang lainnya adalah, kita minta kepada beberapa orang komunitas untuk berbaris dan berdiri didepan kamera dan tidak berpindah-pindah tempat. Setelah itu kita rekam beberapa detik dan matikan (record off). Minta perserta untuk berkurang satu persatu saat tombol record off. Saat diputar atau discreening ini akan menimbulkan gambar seolah-olah perserta tersebut hilang satu persatu.
Partisipatory Video cenderung ke proses bukan kualitas gambar PV tidak membutuhkan kualitas gambar yang bagus, tetapi bagaimana suara masyarakat lokal bisa diangkat atau diekspose. Jika menggunakan kamera profesional akan terlalu rumit dan banyak tombol-tombol kamera yang membingungkan. Karena dalam PV mulai dari proses pengambilan gambar, membangun cerita itu semuanya akan dilakukan oleh komunitas tersebut. Kita hanya sebagai pendamping dan fasilitator.
Kesalahan adalah baik untuk seorang filmaker Kesalahan bisa memacu komunitas untuk bertanya. Misalnya, mengapa tidak ada suaranya gambar yang kita ambil, mengapa gambarnya gelap (siluet), atau apapun yang menurut kita itu salah. Ini penting untuk perkenalan awal kamera dan bagaimana menggunakannya.
Belajar dari banyak pengalaman Para komunitas akan semakin banyak pengalamannya disaat mereka sudah mengenal kamera dan menggunakannya. Jika gambar yang diambil goyang, mereka sudah tahu harus menggunakan tripot. Jika tidak ada suaranya hasil-hasil interview, mereka akan mengecek sound disaat akan memulai interview dan lain sebagainya.
Jangan men-fastfoward saat screening Jika kita melakukan screening terhadap komunitas, jangan sekali-kali kita men-fastfoward gambar-gambar atau hasil-hasil wawancara yang sudah kita ambil terhadap komunitas tersebut. Ini akan memberikan kesan bahwa gambar mereka dianggap tidak penting dan diabaikan.
Human Rights Banyak info-info tentang HAM yang bisa didownload di website. Begitu juga dengan kesepakatan-kesepakatan atau perjanjian-perjanjian negara dan PBB mengenai Hak Asasi Manusia. Beberapa point penting dalam mebuat film adalah yang pertama Consent yaitu mengetahui secara sadar, film itu buat apa, cerita tentang apa dan sadar dampak film tersbut nantinya. Yang kedua adalah kesepakatan, yaitu kesepakatan mengenai hasil film, kesepakatan pembuatan film dan sepakat film itu mau diapain. Kalau dalam konteks tentang kesepakatan dunia tentang masyarakat adat, Masyarakat adat berhak untuk mengetahui sebuah rencana apapun terhadap kampungnya dan berhak mengeluarkan pendapat dan harus dihormati.
Perbedaan hadiah dan hak Ini adalah sebuah permainan dimana ada dua buah gambar yaitu gambar seorang teman memberikan hadiah kepada temannya dan seorang boss memberikan gaji kepada anak buahnya. Permainan ini adalah untuk membedakan mana yang sebuah hak dan mana yang kewajiban. Apa perbedaan dari keempat orang tersebut dan bagaimana rasanya.
Perbedaan kebutuhan dan hak Ini adalah sebuah permainan menebak mana yang bisa disebut sebuah kebutuhan dan mana hak. Ada dua buah gambar, satunya sebuah gambar orang yang berada disebuah pulau yang banyak terdapat makanan dan orang tersebut tidak bisa kemana-mana. Satu lagi gambar orang yang sama, tapi ada satu orang lagi yang memiliki makanan yang berlimpah sementara orang yang satu lagi tidak memiliki makanan. Disini kita diharapkan bisa membedakan mana kebutuhan dan mana hak yang harus diterima. Orang yang tidak memiliki makanan jelas berhak untuk mendapatkan makanan karena orang yang satunya memiliki makanan yang berlimpah.
Sungai kehidupan Salah satu permainan untuk mengenal kamera dan icebreaking adalah meminta kepada komunitas untuk mencatat tangga kejadian yang menurut mereka penting sekali. Setelah mereka mencatat tanggal tersebut urutkan berdasarkan angka terkecil dan tahun. Lalu gunakan dadu atau putaran angka untuk menunjuk tanggal mana yang harus ditanya oleh orang yang menulisnya berdasarkan angka yang didapat dengan menghitung dari angka paling atas. Setelah didapat angkanya, lakukan interview terhadap orang yang menulis tanggal tersebut dan setelah selesai semua dilakukan screening bersama.
Sebuah diagram Partisipatory Video
PV adalah : - Ide, proses pembuatan, keinginan untuk membuat film dari sebuah komunitas
- Diutamakan proses pembuatan dan melibatkan semua, bukan hanya sebuah produk
- Bagaimana seorang filmaker membuat film bersama masyarakat
- Pengambilan keputusan, tentang dampak bagi masyarakat dilakukan secara sadar
- Dilihat dari bagaimana filmaker mendekati dan menyikapi film yang dibuat
- Akan lebih baik hasil-hasil interview lepas dan apa adanya dan proses pembuatan film lebih ke kiri atas (proses dan kepada pemerintah). Akan tetapi tidak selalu tepat jika film digunakan sistem PV
Tujuan PV adalah sama-sama belajar dalam pembuatan film yang lebih bagus dan meperbanyak jaringan yang dibangun selama proses pembuatan film.
Dari materi-materi tersebut yang disampaikan selama tiga hari dan juga praktek-prakteknya setelah mendapatkan materi. Keesokan harinya kita langsung turun kelapangan yang sebenarnya untuk menerapkan apa saja yang sudah didapatkan. Siang harinya kami langsung ke lokasi pengungsian korban lumpur lapindo di Pasar Baru Porong. Disini kami mengajak beberapa warga pengungsi yang ada di Pasar Porong, Desa Besuki dan Desa Permisan untuk merekam keinginan dan tuntutan mereka. Membuat film tentang kehidupan mereka sendiri. Kami menginap di lokasi pengungsian selama tiga hari.
Tak bisa dipungkiri lagi, disaat sesama warga merekam suara mereka air mata tak dapat ditahan lagi oleh para pengungsi. Mereka menangis sejadi-jadinya karena nasib mereka yang lebih dari dua tahun ditelantarkan oleh Lapindo dan pemerintah. Rumah mereka sudah terendam oleh lumpur. Keluarga yang cerai berai. Sistem sosial yang berantakan. Kesenjangan ekonomi dan budaya. Sampai saat ini di Pasar Porong masih terdapat kurang lebih 500 KK para pengungsi. Jika setiap KK saja dirata-ratain memiliki 4 jiwa, berapa ribu orang pengungsi yang masih ada di Pasar Porong. Di Desa Besuki, para pengsungsi mebangun tempat tinggal darurat diatas Jalan Tol yang belum tenggelam. Dan yang lebih memprihatinkan adalah di masyarakat Besuki saat ini suaranya pecah dan tidak bisa bersatu lagi. Warga yang rumahnya sudah tenggelam suara dan tuntutan mereka berbeda dengan yang rumahnya belum tenggelam. Beberapa warga menyebutkan ada unsur kesengajaan dari pihak Lapindo untuk memecah belahkan persatuan sesama korban Lapindo agar mereka tidak bisa bersatu dalam menuntut haknya.
Mungkin jika anda berada disekitar mereka dan menginap dilokasi pengungsian anda bisa merasakan dan menyadari betapa kejam dan jahatnya sebuah konspirasi para pemegang kekuasaan dan para elit-elit politik negeri ini. Membiarkan puluhan ribu saudaranya sendiri. Rakyatnya sendiri terlunta-lunta, diabaikan selama bertahun-tahun di lokasi pengungsian. Tidak adanya jaminan kesehatan. Tidak adanya jaminan pendidikan bagi anak-anak yang ada dilokasi pengungsian dan tidak ada jaminan mereka akan mendapatkan tempat tinggal yang layak seperti rumah mereka dulu sewaktu tidak ada lumpur lapindo. Sakit dan menyesakkan dada memang menjadi orang yang tidak didengarkan jeritan suaranya.
Bagaimana dengan pemerintah kita?? sampai sekarang tidak jelas apa yang akan dilakukan pemerintah kita ini terhadap korban lapindo. Beberapa bulan yang lalu Pengadilan di Jakarta memenangkan Lapindo atas gugutan para korban lumpur. Lumpur Lapindo dianggap oleh pemerintah sebagai bencana alam bukan kesalahan para pekerja Lapindo Brantas Inc. Sekarang di Jatim lagi sibuk dengan kampanye-kampanye Calon Gubernur Jatim. Besok tanggal 23 Juli akan diadakan Pilkada Jatim. Saat ditanya oleh beberapa ormas dan LSM mengenai kontrak politik jika menjadi gubernur apakan sanggup dan mampu membela para korban lumpur lapindo?? Tidak ada satupun dari beberapa calon tersebut yang berani menjawab secara pasti. Semua hanya bisa menebar janji-janji saat kampanye dan pasang iklan di tivi-tivi. Saya secara pribadi sangat jijik dan muak melihat kampanye-kampanye dan janji-janji mereka!!!
Sementara Salah satu menteri kita yang mempunyai dagu panjang dan berkacamata ini lebih senang mengeluarkan uang miliaran rupiah untuk menikahkan anaknya daripada diberikan kepada para pengungsi korban lumpur lapindo. Sampe sekarang saya tidak habis pikir kok bisa orang seperti ini bisa diangkat menjadi Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat ???
Yahh.. akhir kata... beginilah kondisi negara kita yang tercinta ini.
Posted at Wednesday, July 23, 2008 by berang
Permalink
Friday, July 11, 2008
Dari Solo hingga Dataran Tinggi Dieng
X-eGroups-From: Dwi Lesmana <dlesmana@gekkovoices.com> From: Dwi Lesmana <a2lesmana@yahoo.com.sg> X-Yahoo-Profile: a2lesmana Delivered-To: mailing list lawalataipb@yahoogroups.com List-Id: <lawalataipb.yahoogroups.com> List-Unsubscribe: < mailto:lawalataipb-unsubscribe@yahoogroups.com> Date: Wed, 25 Jun 2008 21:05:15 +0700 Subject: [lawalataipb] Perayaan Setelah Kemerdekaan Amerika Selamat Malam, Selamat Pagi, Selamat Siang, ... Rekan-rekan yang baik, pada akhirnya pendiri Bangsa Amerika sangat berbaik hati untuk membantu mengingatkan kita semua. Bahwa sehari setelah kemerdekaan Amerika yang jatuh pada tanggal 4 Juli, dan tepatnya hari Sabtu, tanggal 5 Juli 2008 akan dilangsungkan pertemuan teman karib dan saudara dengan tema : "Menuju Kebebasan Sebenarnya" Semoga pada tanggal tersebut Aloysius Dwi Lesmana dan Dwinorma Pujihastuti dapat menyelesaikan langkah pertama untuk bersama-sama belajar berbagi hingga perahu menghilang di pelupuk. Perjalanan pertama akan dilaksanakan pada pukul 16.00 di Gereja Kristen Ngipang, dan dilanjutkan di tempat Alm Bapak Sudarto mulai pukul 19.00. Semoga senandung yang dapat hadir bisa memberikan semangat dan percaya bahwa segala sesuatu harus dimulai, ... Dan akan sangat menyenangkan seandainya ada rekan yang membawa pemetik suara dan pelantun kata turut hadir pada pertemuan ini. Salam Dwi dan Norma Catatan= Bumi kita telah kepayahan untuk membuatkan kita secarik kertas, email ini merupakan pengganti dari kertas tersebut. ----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Membaca surat yang masuk ke inbox emailku ini, pada awalnya saya tidak menyadari kalau ini adalah sebuah undangan pernikahan. Apalagi disubject emailnya ditulis "Perayaan Setelah Kemerdekaan Amarika". Undangan yang unik memang, disaat ramenya beberapa bulan ini orang-orang yang menikah dan banyaknya undangan pernikahan yang terkadang undangan tersebut sangat mahal persatuannya jika dicetak. Teman satu kerjaan saya ini lebih memilih mengundang hanya lewat email kepada teman-temannya. Dan Subjectnya pun aneh :p Berbekal undangan yang hanya ada dikomputer kami, akhirnya kami semua crew Gekko Studio beserta keluarga (bagi yang sudah berkeluarga) berangkat ke Solo untuk menghadiri acara pernikahan kawan kita itu. Karena acara resepsinya pada tanggal 5 Juli 2008, pukul 16.00 WIB, maka kami berangkat dari Bogor pada tanggal 4 July-nya. Berangkatnya kami ke Solo sudah kami rencanakan jauh-jauh hari sebelumnya. Tentu tujuan kami bukan hanya Solo tapi akan mengunjungi beberapa tempat yang ada di Klaten, Yogyakarta dan terakhir dataran tinggi Dieng, wonosobo. Selamat Untuk Om Dwi dan Mbak Norma Setelah tiba di Solo pada tengah malam, dari pagi hingga siang kami habiskan untuk melepas lelah dan berbincang-bincang dengan calon penganten. Sambil menikmati banyaknya makanan ringan dan teh hangat saya juga menikmati suasana di kampung ini. Khas perkampungan jawa banget, tata bangunan dan rumah yang sudah diatur perblok-blok (petak-petak) dan ada jalannya disetiap blok. Kemungkinan ini adalah bekas pengaruh zaman-zaman kerajaan di Jawa. Pukul empat sorenya kami sudah tiba di sebuah gereja yang lokasinya tidak jauh dari rumah penganten wanita. Tentu tugas saya seperti biasanya, menjadi tukang poto. Setelah mengambil beberapa moment dalam prosesi pernikahan di gereja saya bisa tahu tahap-tahap pernikahan jika dilakukan di gereja. Maklum selama ini saya belum pernah mengikuti pernikahan di gereja. Proses pernikahan di gereja dilakukan sampai pukul enam sore, setelah itu kembali ke rumah penganten wanita dan acara selajutnya resepsi pernikahan. Para tamu mulai berdatangan sekitar pukul 19.30 WIB. Banyak tamu yang berada disekitar kampung. Beberapa orang yang datang dari Bogor. Saya sangat menyukai proses resepsi disini. Tenang, tertib, tamu tidak grasak-grusuk dan tamu bisa menikmati alunan musik yang dinyanyikan oleh biduan dari organ tunggal dan lagu yang dinyanyikan para tamu. Walaupun saya tidak mengerti dengan lagu yang dinyanyikan karena hampir semua lagu yang dinyanyikan berbahasa jawa. Untuk menyantap makanan dan minuman kita cukup duduk saja dengan manis karena makanan dan minuman akan dianter oleh pelayan yang ada. Tidak seperti acara pernikahan yang ada di Bogor atau Jakarta yang selama ini saya hadiri. Riweuh, berantakan. Tamu datang, antri ambil makanan trus pulang. Just it if we come to wedding party. Saat tamu akan pulang, para penganten bergerak menuju pintu keluar dan proses salam-salaman dilakukan disana. Kalo saya perhatikan tamu cukup lama duduk dan menikmati makanan dan menikmati alunan lagu yang dinyanyikan. Mungkin 1-2 jam mereka duduk. Itu merupakan waktu yang cukup lama jika di Bogor atau Jakarta. Jika saat saya lihat proses pernikahan yang ada di Bogor atau Jakarta, mungkin mereka hanya datang, salam pada penganten untuk menunjukkan bahwa kita datang, makan sambil liat sana sini siapa saja yang hadir. Trus salam-salaman lagi dan pulang. Proses itu paling terjadi hanya dalam waktu 15-20 menit. Kok bisa berbeda dengan yang disini ya. Apakah kita ini memang sudah terlalu sibuk untuk menghadiri sebuah acara pernikahan? atau kita memang sudah bosan menghadiri sebuah acara pernikahan dan menganggap acara ini tidak penting?? Silahkan jawab sendiri pertanyaanya. Happy Wedding Om Dwi, akhirnya datang juga moment itu. Walaupun di gereja sempat bilang ke pendetanya "Saya tidak mencari saat kejadian" disaat ditanya mengenai apakah memang menginginkan seorang pasangan hidup dan mencari seorang pasangan hidup. Yang membuat semua orang hadir tertawa dan ada beberapa orang (perempuan tentunya) protes atas jawaban om dwi hehehe.... Semoga menjadi pasangan yang selalu bahagia dan selalu dimudahkan rezekinya. Menuju Yogyakarta
Pada keesokan harinya, pagi-pagi kami sudah packing semua barang dan bersiap untuk menuju Yogyakarta alias Jogja...(ekspresinya seperti sebuah iklan di tipi-tipi). Setelah berpamitan dengan tuan rumah kami berangkat menuju Jogja. Sebelum ke Jogja kami sempatkan dulu untuk mampir ke Kraton Solo. Didalam museum kraton solo ini kita bisa melihat benda-benda peninggalan masa kerajaan mataram yang akhirnya menjadi kesunanan surkarta dan terakhir ini dipimpin oleh Paku Buwono XIII. Keraton ini sangat luas dan asri sekali. Selama berada didalam kraton saya selalu membayangkan bagaimana rasanya hidup dizaman kerjaan. Setelah beberapa jam mengelilingi keraton solo dan istirahat makan jajanan yang ada diseputaran kraton, kita bersiap-siap untuk berangkat menuju jogja. Karena salah satu makanan favoritku adalah bakso, maka saya jajan bakso yang ada diparkiran mobil. Karena biasa pake standar sambel yang ada di Bogor (jumlah perkiraan sambel yang ditaroh dimakok bakso) saat saya akan memakan bakso, akhirnya bakso yang saya beli tadi tidak habis karena pedes sekali. Ternyata sambel bogor dan sambel di solo beda pedesnya. Pertanyaan berikutnya, kenapa sambel yang ada di mamang bakso yang di Bogor dan mamang bakso yang di Solo beda pedesnya ya?  Sekitar pukul 14.00 WIB kami berangkat ke Jogja. Solo-Jogja bisa ditempuh skeitar satu jaman. Saat akan memasuki Jogja, kami langsung belok kanan yaitu di Candi Prambanan. Di kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia ini kami menikamti udara sejuk pada sore hari. Candi yang terletak di perbatasan antara Jawa Tengah dan DI Yogyakarta ini masih dalam tahap perbaikan dan ada beberapa area sekitar candi tidak bisa didekati. Akibat Gempa yang melanda Yogyakarta pada tanggal 27 Mei 2006 lalu beberapa bagian candi rusak berat. Diseputaran candi Brahma dan Candi Shiwa sudah dikelilingi dengan pagar agar para pengunjung tidak berada didekat candi. Beberapa bagian candi yang dibangun pada abat ke-9 ini masih berserakan disekitar bangunan utama candi. Banyak sekali pengunjung yang datang pada saat kita mengunjungi candi prambanan. Mungkin karena bertepatan dengan hari libur sekolah. Setelah puas motret beberapa bagian candi dan belanja pernak-pernik yang dijual disekitar candi kami langsung menuju penginapan yang sudah kami booking sebelumnya. Disekitar candi prambanan ini saya menyempatkan untuk membeli miniatur sepeda ontel yang terbuat dari besi dan mirip sekali dengan bentuk aslinya. Sekedar informasi, dari dulu saya ingin sekali beli miniatur sepeda ontel ini, tapi harnganya untuk di Bogor dan Jakarta bisa mencapai dua ratus ribuan. Disini saya bisa membeli dengan harga lima puluh ribu. Sebenarnya saya ingin membeli dua sepeda ontel, yaitu yang laki-laki dan sepeda ontel yang perempuan. Biar sepasang. Tapi berhubung uang didompet saya hanya ada lima puluh ribu dan itu juga pinjem sama Melly adminnya Gekko, jadi yaa... cukup satu aja dulu. Semoga masih ada kesemptan kesana lain waktu untuk melengkapi koleksi sepeda ontel saya :) Di Jogja kami menginap di Sari Home Stay di daerah Mundu Catur Tunggak, Sleman. Penginapan yang sangat murah, nyaman dan damai. Semalamnya hanya seratus ribu rupiah. Disini kami menyewa empat kamar untuk dua malam, berhubung kami semuanya ada 12 orang dan duanya anak kecil. Dipenginapan ini aksesnya mudah sekali. Bangunan yang didepannya masih terdapat beberapa petak sawah ini dekat dengan jalan raya dan pusat perbelanjaan. Selama di Jogja saya lebih memilih ketemu dengan sepupu saya yang sudah lama sekali tidak ketemu dan disela-sela itu saya ingin menyelesaikan dua buah buku yang saya bawa dari Bogor yaitu buku kedua dan buku ketiga Adrea Hirata. Sang Pemimpi dan Endesor. Buku Sang Pemimpi sudah selesai saya baca saat berada di Solo. Tinggal satu lagi yaitu Endesor. Benar-benar buku yang menggugah semangat untuk berjuang, belajar dan berpetualang. Membuat kita jadi mengerti arti sebuah persahabatan, mimpi dan cita-cita. Salut buat Andrea Hirata. Terus terang saya ingin menamatkan satu buku terakhirnya dan ingin sekali bertemu dengan "Simpai Keramat" alias Arai. Teman-teman yang lain selama dua hari di Jogja belanja di Malioboro dan pergi ke Pantai Padang Tritis. Dengan sepupu ku ini kami labih banyak diskusi mengenai peluang-peluang usaha yang bisa dibangun di tanah kelahiran kami, yaitu Arga Makmur, Bengkulu Utara. Selama dua hari kami membuat konsp detail usaha yang rencananya ingin kami bangun bersama. Sambil manggut-manggut dan tertawa sendiri karena lucu dengan ide ini. Idenya munculnya kok di Jogja. Jauh sekali dengan Arga Makmur. Tapi semoga dengan pertemuan kemaren beberapa tahun kedepan semuanya bisa terealisasikan dan kami punya usaha sendiri. Amien. Dieng Plateu
Dari DI Yogyakarta, pada hari Rabu tanggal 9 Juli 2008 kami berangkat menuju Wonosobo. Tujuan kami yang terakhir sesuai dengan rencana perjalanan adalah Dataran Tinggi Dieng. Setelah menginap satu malam di Hotel Parama yang terletak di Pusat Kota Wonosobo, subuh-subuh kami sudah berangkat dari hotel menuju dataran tinggi dieng untuk mengejar matahari terbit. Berdasarkan iformasi yang kami terima di rumah makan, melihat pemandangan matahari terbit adalah moment yang sangat menyenangkan. Perjalanan dari Wonosobo ke Dieng mengingatkanku pada perjalanan menuju Nilgiris, India. berliku, banyak tikungan dan menanjak. Bedanya kalo di Nilgiris pemandangan kanan kiri jalan dihiasi dengan tanaman teh dan beberapa pohon sdangkan di Dieng hanya bukit-bukit gundul, kering dan hanya ditanami sayur-sayuran. Saya membayangkan betapa indah dan damainya jika bukit-bukit yang ada di dataran tinggi dieng ini masih banyak terdapat phon-pohon dengan bertajuk rimbun dan rapat. Tidak akan bosan menikmati perjalanan menuju dieng seperti yang saya alami selama membawa mobil. Perasaan jengkel selama menjadi sopir, selain pemandangannya bosan karena bukit-bukitnya kering dan gundul, selama perjalanan terdapat bau yang sangat menyengat sepanjang perjalanan. Saya sempat bingung ini bau didalam mobil karena ada yang menginjak kotoran atau bau apa. Setelah diselidiki ternyata bau pupuk-pupuk yang ada dipinggir jalan dan pupuk yang diangkut oleh truck menuju ke perkebunan. Maklum pupuk-pupuk itu terbuat dari kotoran ayam. Baunya persis seperti bau terasi. Bahkan lebih menyengat dari terasi. Kami sempat mengambil beberapa foto dari menara yang ada dipinggir jalan disaat matahari dengan malu-malunya mulai menampakkan diri. Setelah itu kami menuju lokasi Candi Arjuna dan Candi Semar dan beberapa candi yang ada disekitarnya. Suhu udara di Dieng membuat kami mengigil disaat turun dari mobil. Kawasan yang berada diatas ketinggian 2.093 mdpl ini memiliki suhu udara rata-rata 15-20 derajat di siang hari, dan 10 derajat pada malam hari. Kadang-kadang dapat mencapai 0 derajat di pagi hari, terutama pada bulan Juli-Agustus. Gilakan, serasa berada di Puncak Gunung Salak aja :p. Ngga kebayangkan bagaimana perjuangan Ikal dan Arai disaat baru tiba di Eropa dan ditolak oleh penginapannya karena kesalahan administrasi dan si Ikal yang ditimbun dengan daun rowan oleh Arai karena kedinginan, malam pertamanya tiba di Eropa mereka harus bermalam di taman yang bersalju (maklum masih ingat dengan cerita di buku endesor). Di Dieng yang terletak diantara Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo kami mengunjungi beberapa tempat wisata lainnya. Yaitu Kawah Sikidang dan Telaga Warna. Pantesan dari dulu saya sering mendengar orang bercerita tentang kondisi dieng dan daya tariknya. Karena memang cukup banyak obyek wisata yang bisa kita kunjungi jika datang ke Wonosobo dan Berkunjung ke dataran tinggi dieng. Akhirnya... setelah sejak kuliah dulu saya pernah mendengar tentang keeksotisan dieng dan ingin sekali kesana bisa terwujudkan dengan berlibur bersama Keluarga Besar Gekko Studio. Thanks Gekko Studio.
Posted at Friday, July 11, 2008 by berang
Permalink
Saturday, June 28, 2008
Menapak Jejak Sejarah Suku Rejang

Perjalan untuk mendokumentasikan huruf-hurus kuno rejang (huruf ka ga
nga) sebenarnya sudah lama saya lakukan yaitu pada bulan
Januari-Febuari 2008. Bersama dengan teman-teman Gekko Studio kami
berangkat ke Bengkulu. Dengan menggunakan mobil hiline long sasis yang
kami beli di Bali pada bulan desember tahun lalu kami berangkat menuju
Bengkulu, Tepatnya Bengkulu Utara kampung halamanku. Kami sengaja
membeli mobil sendiri biar puas untuk muter-muter Bengkulu dan
kedepannya jikalau ada perjalanan yang areanya masih sekitar jawa dan
sumatera kami bisa menggunakan kendaraan sendiri biar lebih hemat.
Hemat, belajar dari pengalaman disaat kita membuat sebuah film
dokumenter tentang impact
perkebunan sawit terhadap anak suku dalam di Jambi. Kami harus merental
mobil hiline ini dengan harga 400 ribu perhari. Lumayankan kalo kita
sewa selama 10 hari lebih plus BBM-nya.
Di Bengkulu selain membuat film dokumenter tentang keterancaman gajah
sumatera yang ada di Bengkulu kami juga menyempatkan diri untuk
berangkat ke Kabupaten Lebong dan Curup untuk survey mengenai
keberadaan tulisan rejang (huruf ka ga nga) dan sejarahnya. Perjalanan
ini juga merupakan perjalanan ritualku karena akan menelusuri sejarah
persebarang suku rejang yaitu suku saya sendiri. Selama ini saya yang
terlahirkan dari keturuanan asli rejang saya tidak pernah tahu sejarah
persebarannya. Norak ngga ya :)
Tulisan ini adalah saya kembangkan dari hasil wawancara dengan Pak
Salim, salah satu tokoh adat yang ada di Desa Topos, Kabupaten Lebong.
Salah satu kampung tertua yang ada di Lebong yang terletak di hulu
sungai ketahun. Karena saya terlebih dahulu harus mencatat hasil-hasil
wawancaranya disela-sela rutinitas yang ada dan sekaligus mencoba untuk
mentransletnya (berhubung wawancaranya menggunakan bahasa rejang), jadi
yah beginilah jadi lama saya menulisnya ke blog ini. Hasil-hasil
wawancara ini saya coba rangkai dan kembangkan agar enak dibaca. Mohon
maaf jikalau nanti bahasanya masih ada yang kaku dan lompat-lompat
serta ada beberapa bahasa yang tidak mampu saya terjemahkan.
Sejarah Rejang
Asal mula masyarakat rejang yang ada di Bengkulu menurut
cerita nenek mamak atau orang-orang tua (Pak Salim dan Masyarakat
Topos) adalah pertamanya ditemukan di Desa Siang, muara sungai ketahun.
Pada masa itu pemimpin masyarakat rejang adalah Haji Siang. Dimana
sebelum Haji Siang, lima tahap diatas Haji Siang orang rejang sudah
ada. Pada masa haji ini ada emapat orang haji yaitu Haji Siang, Haji
Bintang, haji Begalan Mato dan Haji Malang. Karena mereka berempat
tidak bisa memimpin dalam satu daerah, akhirnya mereka membagi wilayah
kepemimpinan. Haji Siang tinggal di Kerajaan Anak Mecer, Kepala Sungai
Ketahun, Serdang Kuning. Haji Bintang ada di Banggo Permani, manai
menurut istilah rejangnya yang sekarang terletak di Kecamatan Danau
Tes. Haji Begalan Mato tinggal di Rendah Seklawi atau Seklawi Tanah
Rendah. Kerajaan Haji Malang bertempat tinggal diatas tebing, sekarang
namanya sudah menjadi Kecamatan Taba' Atas.
Dalam keempat kepemimpinan ini mereka ada sebuah falsafah hidup yang diterapkan yang itu pegong pakeui, adat cao beak nioa pinang yang berartikan adat yang berpusat ibarat beneu. Bertuntun ibarat jalai (jala ikan), menyebar ibarat jala, tuntunannya satu. Jika sudah berkembang biak asalnya rejang tetap satu. Kenapa ibarat beneu? beneu
ini satu pohon, tapi didahan daunnya kait-mengait walaupun ada yang
menyebar atau menjalar jauh. Walaupun pergi ketempat yang jauh tapi
tahu akan jalinan/hubungan kekeluargaannya. Bisa kembali lagi darimana
asal mereka berada.
Pegong pakeui juga mengajarkan bahwa kita sebagai manusia
mempunyai hak yang sama. Jika kita sama-sama memiliki, maka kita
membaginya sama rata. Jika kita menakar (membagi), misalnya membagi
beras, kita menakarnya sama rata atau sama banyaknya. Jika kita
melakukan timbangan, beratnya harus sama berat. Itulah pegong pakeui orang rejang. Amen bagiea' samo kedaou, ameun betimbang samo beneug, amen betakea samo rato. Artinya jika membagi sama banyak, jika menimbang sama berat, jika menakar sama rata). Itulah cara adat rejang.
Dengan persebaran dan berkembang biaknya dari empat kerjaan ini mereka
mencari tempat-tempat di kepala air (hulu sungai) untuk dijadikan
tempat tinggal. Seperti yang ada sekarang ini yaitu Rejang Aweus,
Rejang Lubuk Kumbung yang ada didaerah Muaro Upit, Rejang Lembak
(Lembok Likitieun, Lembok Pasinan) dan termasuk juga Rejang Kepala
Curup. Dasar persebaran ini adalah dari Rio (belum jelas Rio ini siapa
dan keturunan darimana). Dipercaya Rio berasal dari Desa Topos yang
pecahan kebawahnya adalah Tuanku Rio Setagai Panjang. Rio Setagai
Panjang ini memiliki tujuh orang bersaudara dan berpencar untuk mencari
tempat tinggal. Diantara dari tujuh Rio tersebut dan persebarannya di
Bengkulu adalah sebagai berikut:
1. Rio Tebuen ada di Desa Lubuk Puding, Pasema Air Keruh
2. Rio Penitis ada di Curup. daerah Selumpu Sape
3. Rio Mango' keturunannya sekarang mulai dari Pagar Jati sampai ke hulu nya yaitu Desa Gading, Padang Benar dan Taba Padang
4. Rio Mapai sekarang keturuanannya ada di Kecamatan Lais, itulah asal orang rejang yang terletak di bagian utara
Suku Rejang memiliki lima marga, yaitu Jekalang, Manai, Suku Delapan,
Suku Sembilan dan Selumpu. Lima marga inilah sekarang yang ada di tanah
rejang yang ada di Bengkulu. Jika ada yang pindah ketempat lain mereka
akan tetap berdasarkan lima marga tersebut. Walaupun mungkin banyak
orang-orang rejang yang ada di Bengkulu sudah tidak tahu lagi mereka
masuk kedalam marga apa. Dikatakan oleh orang tua dahulu pecua' bia piting kundei tanea' ubeuat, pecua bia' piting kundei tanea' guao', istilah rejangnya mbon stokot, 'mbar-mbar ujung aseup, royot kundeui ujung stilai.
Artinya masih ada asal usul yang menyangkut tanah lebong, walau dia
berpencar kemanapun. Dari kepercayaan yang ada, mereka percaya asal
mula rejang itu satu. Tidak ada bibitnya (asal usulnya) dari orang
lain. Semuanya berasal dari Ruang Lebong atau Daerah Lebong yaitu dari
Ruang Sembilan Sematang. Walaupun sekarang orang rejang atau suku-suku
rejang sudah menyebar dipelosok nusantara ini ataupun diluar negeri
sekalipun.
Cara Adat Rejang yang sudah menghilang
Seperti halnya dengan suku-suku lain yang ada di nusantara
ini, suku rejang juga memiliki adat dan budaya dalam melakukan beberapa
kegiatan ataupun upacara adat. Salah satunya adalah cara untuk
menikahkan anak dan adat untuk membayar nazar jikalau kita ingin
membayar nazar atau hutang. Cara yang dilakukan adalah memakai sesajen
untuk berkomunikasi dengan pada arwah-arwah atau penghulu-penghulu kita
yang sudah pergi. Kita memberi tahu jika kita ingin membayar nazar aatu
ingin mengadakan pernikahan anak kita. Sesajen ini biasanya dengan
menyertakan ayam yang dalam bahasa rejangnya disebut mono' biing.
Pada zaman dahulu, sebelum memakai benih untuk menanam harus mengundang benih terlebih dahulu, yang disebut bekejai binia'. Benih ini ditaroh didalam tadeu (sejenis keranjang yang terbuat dari rotan atau bambu). Ngekejai
(belum jelas apa/siapa ngekejai) memanggil malaikat jibril, israfil,
mikail dan juga para dewa. Jika jumlah benih yang ada didalem tadeu
semakin banyak jumlahnya berarti ada harapan hasil panen akan banyak
dan ada rezeki nantinya. Namun jika benihnya tidak bertambah banyak
jumlahnya mungkin pertanda hasil ladang kita tidak akan maksimal
hasilnya. Jika ingin memotong bambu itu bagi orang rejang ada
pantangannya, begitu juga jika ingin membuka hutan. Jika kita ingin
membuka hutan kita harus menabeues, menyatakan maksud kita kepada yang menjaganya. tanea' talai istilahnya, tukang ngembalo tanea' dunionyo
(penjaga tanah di dunia ini). Tuhan tidak hanya menurunkan sesuatu ke
bumi ini tanpa ada yang menjaganya. Jika kita ingin membuka lahan
disuatu area tersebut kita tancapkan sebuah pancang. Jika diarea yang
kita beri tanda tidak menyahut atau ada pertanda yaitu misalnya berupa
binatang mati atau berupa darah, berarti kita harus membatalkan niat
kita untuk membuka lahan disana dan pertanda bukan rezeki kita disana,
melainkan tanda bala' yang memanggil kita.
Dalam menanam padi, jika terdapat hama dalam tanaman tersebut seperti hama pianggang, senangeuw, luyo atau luyang dalam
bahasa rejannya, mereka membasmi dengan memakai daun sirih dengan cara
menyemburkan air daun sirih tersebut sewaktu sore hari menjelang
maqrib. Dalam tiga kali semburan dalam waktu senja hama itu bisa pergi.
Dengan kekuasaan Tuhan mahkluk ini bisa pergi. Pada zaman itu tidak
mengenal pestisida ataupun racun. Karena mereka percaya, jika niat kita
jelek untuk membasmi mahkluk Tuhan, maka timbal baliknya adalah
bencana. "Sebab niat kita mau membasmi mahkluk Tuhan, sedangkan cara
adat itu di jampi, nidau kalo dalam bahasa rejang, disusur
darimana asalnya, baliklah ke tempat asalnya" terang pak salim kepadaku
karena sekarang sudah banyak yang menggunakan racun pestisida dalam
membasmi hama.
Jika orang rejang ingin membuat rumah untuk tempat tinggal, terlebih
dahulu mereka memilih jenis kayunya. Misalnya kayu meranti, kayu
semalo, kayu medang. Cara untuk mengambil kayu tersebut pun ada aturan
adatnya, yaitu jika tumbangnya mengarah ke kepala air atau mengarah
mata air, atau menusuk ke leko' itu
tidak boleh diambil. Itu tandanya celaka dalam arti kita sebagai orang
rejang. Rumah yang sudah kita bangun dan setelah kita huni kita akan
jatuh sakit ataupun meninggal dunia. Meninggal dalam artian bukan
karena rumah tersebut, tapi karena celaka atau musibah, banyak masalah
yang datang. Kemungkinan hidup kita akan susah setelah itu karena kayu
yadi membawa bencana. Bagusnya dalam membangun rumah adalah jika kayu
yang kita ambil tumbangnya mengarah ke desa atau kampung. "Inilah 100% sebagai tanda-tanda yang bagus untuk kita membangun rumah" ungkap pak salim.
Sebelum adanya masa orde baru atau Rezim Suharto, ditanah rejang masih
dikenal dengan sistem kepemimpinan yang dipimpin oleh Kepalo Banggo
(Kepala Marga) atau raja bagi masyarakat rejang. Kepala Marga memegang
dua pernanan, yaitu menjalankan roda pemerintahan dan juga menjalankan
sistem-sistem adat yang ada karena dialah raja dari adat. Antara tahun
1977-1978 kepala marga ditanah rejang dihapus dan digantikan dengan
sistem pemerintahan yang ada yaitu camat, kepala desa dan turunannya.
Kepala marga diganti dengan Camat. Setelah sistem kepala marga
diganti, masyarakat adat seperti ayam kehilangan induknya. Banyak
cara-cara adat yang sudah tidak diterapkan lagi dan budaya-budaya serta
kearifan lokal perlahan memudar. Orang-orang pemerintahan tidak paham
dan mengerti akan cara-cara adat. Dan disebutkan bahwa inilah awal dari
kehancuran budaya dan adat istiadat rejang yang ada sekarang ini.
Hilangnya adat istiadat, hilangnya budaya asli rejang juga memudarkan
sebuah ajaran rejang mengenai pegong pakeui. Saat ini berbagi sudah
tidak mau lagi sama banyak, menimbang tidak mau sama berat, menakar
sudah tidak mau lagi sama rata. Siapa yang berkuasa dan gagah itulah
yang memegang kekuasaan. Manusia dalam berprilaku sudah tidak
terkontrol lagi yang akhirnya mendatangkan bencana bagi manusia itu
sendiri.
"Itulah penyebab yang mendatangkan banjir, karena manusia
membabi buta dalam membuka hutan. Tidak mengikuti aturan lagi, tebing
dibuat lahan, nah itulah barangkali hutannya bakal rusak. Kalau zaman
saya hingga bapak saya keatas, zaman nenek saya tidak pernah rusak.
Dijamin tidak ada yang rusak hutannya" tegas pak salim yang membuat saya kagum akan semua penjelasan beliau.
Posted at Saturday, June 28, 2008 by berang
Permalink
|
|

berangFebruary 9th 1983 (Age 26) Male Bogor
Maybe we need to sharing about
everything in this world.
The information is very important for the peoples.
For the good future and sustainability.
Childrens must be smile.
But sometimes we don't care about them,
about their future.
We just caring about ourselves.
Now.... forests are gone and the environment is broken.
Remember... life in this world very fast.
And, you can't eat your money.
============================
All pictures taken from http://berangberang.blog.friendster.com/
You also can see my pictures in my Facebook
============================
|
|